Jual Kaus Bertema Karhutla, Irfan Hakim Tuai Pro Kontra: 100 Persen Keuntungan Didonasikan

 

JAKARTA, Denting.id – Presenter sekaligus komedian Irfan Hakim menjadi sorotan setelah menjual kaus bertema kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dengan pesan pelestarian lingkungan. Meski menyebut seluruh keuntungan penjualan akan didonasikan, langkah tersebut tetap menuai pro dan kontra di media sosial.

Kaus bertajuk Save My Home edisi orang utan itu menampilkan ilustrasi satwa yang mengenakan masker. Desain tersebut menggambarkan dampak kebakaran hutan terhadap satwa liar dan habitatnya.

Sejumlah warganet mempertanyakan penjualan merchandise di tengah bencana karhutla. Mereka khawatir persoalan lingkungan yang berdampak terhadap manusia dan satwa liar justru dijadikan peluang untuk memperoleh keuntungan.

Kritik juga muncul karena upaya penyelamatan akibat karhutla dinilai perlu memperhatikan seluruh pihak terdampak, bukan hanya satu jenis satwa.

Melalui unggahan di media sosial, Irfan menjelaskan bahwa kaus tersebut dibuat sebagai sarana menyebarkan pesan kepedulian terhadap lingkungan.

“Mereka mungkin tak bisa bersuara seperti kita. Tapi mereka juga ingin hidup. Bersuara bisa dengan berbagai cara. Salah satunya, melalui kaos ini. Sebuah pengingat bagi kita dan mereka yang bertanggung jawab, bahwa ada kehidupan yang harus kita jaga. 100% keuntungan dari penjualan kaos ini akan didonasikan. Karena setiap kehidupan berhak untuk diselamatkan. Save my Home,” tulis Irfan.

Irfan Tegaskan Bukan untuk Mencari Keuntungan

Menanggapi kritik yang muncul, Irfan memberikan klarifikasi melalui kolom komentar media sosial. Ia menegaskan, tujuan utama penjualan kaus bukan untuk mencari keuntungan, melainkan mengajak masyarakat lebih peduli terhadap kerusakan hutan dan ancaman terhadap satwa liar.

“Bukan keuntungan penjualan yang menjadi tujuan. Tapi tujuan utamanya adalah menyebar pesan kebaikan melalui kaos ini. Istilahnya, saya sedang merekrut duta-duta alam yang menyampaikan tentang kerusakan. Dengan menggunakan kaos ini, mudah-mudahan banyak orang yang melihat dan tersadarkan untuk menyelamatkan orang utan,” jelas Irfan.

Ia juga menyebut seluruh keuntungan penjualan kaus akan disalurkan untuk kegiatan konservasi di Kalimantan. Salah satu pihak yang direncanakan menerima dukungan adalah Conservation Action Network (CAN) Borneo.

Dana tersebut diharapkan dapat membantu upaya penyelamatan satwa endemik, termasuk orang utan, bekantan, dan rangkong yang habitatnya terancam akibat kerusakan hutan.

Kaus Save My Home edisi orang utan dijual dengan harga Rp150 ribu. Periode pemesanan diumumkan berlangsung pada 14–20 Oktober 2026.

Transparansi Donasi Jadi Sorotan

Kontroversi penjualan kaus tersebut turut memunculkan pembahasan mengenai transparansi dalam kampanye sosial yang melibatkan penjualan produk.

Di satu sisi, merchandise dapat menjadi sarana untuk menyebarkan pesan lingkungan sekaligus mengajak masyarakat berpartisipasi dalam kegiatan konservasi. Namun, publik juga membutuhkan kejelasan mengenai penggunaan dana yang dihimpun.

Informasi mengenai jumlah keuntungan yang terkumpul, pihak penerima, serta realisasi penyaluran donasi menjadi hal penting untuk menunjukkan dampak nyata dari gerakan tersebut.

Persoalan karhutla sendiri tidak hanya mengancam orang utan, tetapi juga merusak ekosistem dan mengancam berbagai satwa yang kehilangan habitatnya. Karena itu, upaya penyelamatan lingkungan membutuhkan dukungan nyata, disertai keterbukaan agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga.

Editor : Linna Susanti

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai