212 Siswa dan Guru Keracunan MBG di Sukabumi, Dinkes Temukan Bakteri E. coli

 

SUKABUMI, Denting.id  – Kasus dugaan keracunan makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menimpa 212 siswa dan guru SMKN 1 Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, mengungkap sejumlah persoalan terkait keamanan pangan. Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sukabumi menemukan kontaminasi bakteri Escherichia coli (E. coli) pada air sumur dan sejumlah peralatan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Gunungguruh Cikujang 1.

Selain temuan kontaminasi bakteri, hasil penyelidikan epidemiologi menunjukkan adanya keluhan mengenai kondisi menu dimsum mentai dan kentang (potato wedges) yang disajikan kepada para siswa dan guru. Makanan tersebut dilaporkan tidak matang, berbau, terasa asam, dan berlendir.

Kepala Dinkes Kabupaten Sukabumi, Masykur Alawi, mengatakan informasi tersebut diperoleh melalui wawancara dan observasi terhadap para korban.

“Berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi melalui wawancara dan observasi pada penderita, didapatkan keterangan bahwa menu dimsum mentai dan kentang (potato wedges) memiliki kondisi tidak matang, berbau, rasa asam, dan berlendir,” kata Masykur.

212 Orang Mengalami Gejala Keracunan

Peristiwa dugaan keracunan MBG tersebut terjadi pada Jumat (2/10/2026). Namun, laporan dari Puskesmas Gunungguruh dan Cibolang baru diterima Dinkes Kabupaten Sukabumi pada Rabu (7/10/2026).

Jeda pelaporan selama lima hari membuat sampel sisa makanan di sekolah maupun sampel yang disimpan di SPPG tidak dapat diperiksa di laboratorium. Pasalnya, batas penyimpanan sampel makanan tersebut maksimal 2 x 24 jam.

Dari total 212 orang yang mengalami gejala, lima orang sempat menjalani perawatan di rumah sakit. Mayoritas korban mengalami gangguan pencernaan.

Masykur merinci, sebanyak 204 orang atau 96,23 persen mengalami sakit perut. Kemudian, 184 orang atau 86,79 persen mengalami diare, sedangkan 159 orang atau 75 persen mengeluhkan perut melilit.

“Dari 212 kasus bergejala, sebanyak 204 kasus (96,23%) merasakan gejala sakit perut, 184 kasus (86,79%) mengalami diare, dan 159 kasus (75%) merasakan perut melilit. Saat ini seluruh korban bergejala dipastikan sudah sembuh,” jelasnya.

Air Sumur dan Peralatan Dapur Tercemar E. coli

Temuan lain muncul dari pemeriksaan laboratorium terhadap sampel lingkungan di SPPG Gunungguruh Cikujang 1.

Dinkes menemukan air sumur yang digunakan untuk mencuci peralatan makan mengandung bakteri E. coli dengan hasil pengujian tercatat +100.

Kontaminasi juga ditemukan pada sejumlah peralatan. Hasil pemeriksaan menunjukkan kandungan E. coli pada pisau sebesar +17, talenan +18, dan ompreng +111.

Hasil tersebut berada di atas baku mutu kesehatan lingkungan yang ditetapkan untuk parameter tersebut, yakni nol.

Temuan ini menjadi perhatian karena air dan peralatan yang digunakan dalam proses pengolahan maupun penyajian makanan harus memenuhi persyaratan kebersihan dan keamanan pangan.

Meski demikian, kontaminasi bakteri pada sampel lingkungan tersebut belum dengan sendirinya membuktikan bahwa E. coli merupakan penyebab langsung seluruh kasus dugaan keracunan. Sampel sisa makanan yang tidak dapat diuji juga membatasi pemeriksaan laboratorium terhadap makanan yang dikonsumsi para korban.

Fasilitas Sanitasi Dapur Jadi Sorotan

Selain kontaminasi bakteri, tim investigasi Dinkes menemukan sejumlah persoalan pada fasilitas sanitasi di SPPG Gunungguruh Cikujang 1.

Fasilitas pemanas air (water heater) untuk mencuci peralatan makan dilaporkan tidak berfungsi. Dapur tersebut juga belum memiliki alat sterilisasi peralatan.

Dari sisi sumber daya manusia, jumlah petugas yang telah mengikuti pelatihan keamanan pangan juga belum mencakup seluruh penjamah makanan.

“Dari 50 penjamah makanan, baru 20 orang yang memiliki sertifikat Pelatihan Keamanan Pangan (PKP),” ungkap Masykur.

Kondisi tersebut menjadi catatan dalam evaluasi proses penyediaan makanan, mulai dari kebersihan air, pencucian peralatan, hingga penerapan standar pengolahan makanan.

Dinkes Rekomendasikan Perbaikan SPPG

Menindaklanjuti hasil penyelidikan, Dinkes Kabupaten Sukabumi menerbitkan sejumlah rekomendasi untuk meningkatkan keamanan pangan di SPPG Gunungguruh Cikujang 1.

Rekomendasi tersebut mencakup larangan penggunaan air sumur untuk kegiatan pengolahan makanan dan kewajiban menggunakan air galon isi ulang yang telah teruji melalui pemeriksaan laboratorium.

Dinkes juga merekomendasikan perbaikan fasilitas sanitasi dan sterilisasi peralatan, serta evaluasi menyeluruh terhadap kepatuhan prosedur operasional standar (SOP) pengolahan makanan.

Temuan ini menjadi bahan evaluasi penting bagi penyelenggara program MBG agar kualitas bahan makanan, kematangan masakan, kebersihan air, dan sanitasi dapur benar-benar terjaga.

Pengawasan yang ketat diperlukan untuk memastikan makanan yang disajikan kepada siswa aman dikonsumsi dan kejadian serupa tidak terulang.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai