Menkeu Purbaya Tinggalkan Konpers APBN KITA, Sebut Ada “Tamu Penting” Tak Bisa Menunggu

Jakarta, Denting.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mendadak meninggalkan ruangan saat Konferensi Pers APBN KITA yang digelar di Aula Djuanda, Gedung Djuanda I, Kementerian Keuangan, Jakarta, Selasa (5/5/2026).

Purbaya mengaku harus menemui “tamu penting” yang tidak bisa diminta menunggu hingga konferensi pers selesai. Namun, ia tidak mengungkap identitas tamu tersebut.

“Saya izin dulu ya, ada tamu yang penting, yang nggak bisa saya suruh tunggu, nanti saya dimarahin,” ujar Purbaya di hadapan awak media.

Ia pun menyerahkan kelanjutan konferensi pers kepada Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara.
“Diteruskan oleh Pak Suahasil,” katanya singkat sebelum meninggalkan ruangan saat sesi tanya jawab berlangsung.

Sebelumnya, Purbaya sempat memaparkan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026 serta berbagai isu ekonomi terkini, termasuk terkait pelemahan nilai tukar rupiah.

Menanggapi anggapan bahwa melemahnya rupiah disebabkan kondisi fiskal yang goyah, Purbaya menegaskan bahwa kewenangan pengelolaan nilai tukar berada di tangan Bank Indonesia (BI).
“Kalau rupiah tanya BI ya, jangan tanya saya. Mereka yang berhak menjawab,” ujarnya.

Ia juga memastikan kondisi fiskal Indonesia masih terjaga. Hingga Maret 2026, defisit APBN tercatat sebesar Rp 240,1 triliun atau setara 0,93% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

Purbaya menegaskan pemerintah berkomitmen menjaga defisit tetap di bawah 3% sepanjang tahun sesuai desain APBN. Ia juga mengingatkan agar tidak menyederhanakan perhitungan defisit tahunan dengan mengalikan capaian kuartal pertama.

“Jangan dikali empat, karena siklus belanja dan penerimaan setiap tahun berbeda. Yang jelas sepanjang tahun akan kita kendalikan di bawah 3%,” tegasnya.

Baca juga: Kabar Menkeu Purbaya Dirawat Ramai di Medsos, Wamenkeu Pastikan Agenda APBN KiTa Tetap Digelar

Ia menambahkan, perhitungan yang mengalikan defisit kuartal pertama menjadi proyeksi tahunan hingga 3,6% merupakan cara yang keliru karena tidak mempertimbangkan dinamika siklus fiskal.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai