Kasus Dugaan Keracunan MBG Berulang, Pemilik SPPG Bogor Soroti Kesiapan Dapur

 

BOGOR, Denting.id – Kasus dugaan keracunan setelah mengonsumsi hidangan program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan. Terbaru, ratusan warga di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, mengalami keluhan kesehatan setelah mengonsumsi makanan yang didistribusikan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bawang. Pemerintah daerah setempat mencatat jumlah warga yang diperiksa mencapai 521 orang hingga Jumat (25/9/2026).

Kondisi tersebut mendapat perhatian dari Deni Pramuji, pemilik sekaligus pengelola sejumlah dapur SPPG di Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor. Ia menilai kesiapan dapur, sumber daya manusia, hingga penerapan standar operasional prosedur (SOP) menjadi hal penting dalam penyelenggaraan program MBG.

“Saya melihat banyaknya kasus keracunan MBG, bahkan yang bikin sangat prihatin adanya siswa di sekolah yang menolak MBG dari dapur SPPG,” ujar Deni kepada wartawan, Sabtu (26/9/2026).

Menurut Deni, persoalan kesiapan dapur perlu menjadi perhatian karena pengelolaan SPPG membutuhkan proses yang berbeda dengan dapur rumah tangga. Setiap tahapan, mulai dari pengolahan bahan makanan hingga pendistribusian, harus dilakukan dengan memperhatikan ketentuan yang berlaku.

Ia menyoroti masih adanya dapur SPPG yang dinilai belum memiliki persiapan matang, termasuk dari sisi tenaga pengolah makanan.

“Hasil pengamatan saya, saat ini dapur-dapur SPPG berdiri tanpa adanya persiapan yang matang dan itu menyangkut semua aspek, misalnya juru masak yang tak berpengalaman,” kata Deni.

Deni mengatakan, evaluasi dan pendampingan terhadap pengelola maupun juru masak perlu dilakukan untuk memastikan makanan yang diproduksi memenuhi standar yang ditetapkan.

Ia pun mengaku siap berbagi pengalaman dengan pengelola SPPG lainnya, khususnya di Kabupaten Bogor, sebagai upaya mendorong pengelolaan dapur MBG yang lebih baik.

“Kita harus lakukan langkah persuasif seperti memberi tahu baik-baik kepada para chef atau juru masak agar tidak menyamakan proses memasak di rumah orang tuanya dengan di dapur SPPG, mengingat di dapur SPPG itu ada takaran SOP-nya,” ujarnya.

Selain memberikan arahan, menurut Deni, pemilik atau pengelola SPPG juga perlu aktif mendampingi juru masak yang belum memiliki pengalaman memadai dalam mengelola dapur skala besar.

Pendampingan tersebut, kata dia, dapat dilakukan secara intensif selama proses awal pengelolaan dapur agar para juru masak memahami standar pengolahan makanan yang diterapkan dalam program MBG.

Deni menilai upaya tersebut penting dilakukan karena program MBG menyasar jutaan penerima manfaat. Di satu sisi, munculnya kasus dugaan keracunan dapat menimbulkan kekhawatiran di kalangan penerima manfaat dan orang tua. Namun di sisi lain, keberlanjutan program tetap dinantikan oleh banyak anak.

Kasus di Batang sendiri masih menjadi perhatian. Pemerintah Kabupaten Batang sebelumnya menyebut ratusan warga mendapatkan penanganan medis setelah mengalami keluhan kesehatan usai mengonsumsi hidangan MBG. Operasional SPPG yang terkait dengan kejadian tersebut juga mendapat tindakan penghentian sementara.

Karena itu, Deni menekankan pentingnya memastikan kesiapan setiap dapur SPPG sebelum menjalankan pelayanan, termasuk kompetensi tenaga pengolah makanan dan penerapan SOP secara konsisten.

“Pendampingan itu dilakukan sekitar tiga hari tiga malam agar makanan yang disajikan sesuai SOP,” pungkasnya.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai