Jakarta, Denting.id – Menteri Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (P2MI) Mukhtarudin menegaskan Program SMK Go Global menjadi strategi pemerintah untuk menyiapkan tenaga kerja Indonesia yang terampil, profesional, dan mampu bersaing di pasar internasional.
Program tersebut juga menjadi upaya memperkuat pelindungan pekerja migran sejak sebelum keberangkatan melalui pelatihan kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja global.
“SMK Go Global merupakan upaya nyata pemerintah untuk menyiapkan Pekerja Migran Indonesia yang terampil, profesional, dan berdaya saing global. Program ini juga menjadi bentuk pelindungan dari hulu, dengan membekali peserta kompetensi yang sesuai kebutuhan pasar kerja internasional agar siap bekerja melalui jalur yang legal, aman, dan terlindungi,” kata Mukhtarudin dalam keterangan pers, Jumat (9/10/2026).
Berdasarkan data per 8 Oktober 2026, jumlah peserta pelatihan SMK Go Global di wilayah kerja Balai Pelayanan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP3MI) Jawa Barat mencapai 1.319 orang. Jumlah tersebut menjadi yang tertinggi sementara dibandingkan wilayah kerja BP3MI lainnya.
Khusus di Universitas Kebangsaan Republik Indonesia (UKRI), program pelatihan diikuti 175 peserta yang terbagi dalam sembilan kelas dengan tiga bidang pelatihan.
Rinciannya, pelatihan operation production* dan bahasa Inggris diikuti 57 peserta dalam tiga kelas. Kemudian, pelatihan welder dan bahasa Inggris diikuti 20 peserta dalam satu kelas, sedangkan pelatihan barista dan bahasa Inggris diikuti 98 peserta dalam lima kelas.
Menurut Mukhtarudin, program tersebut merupakan upaya peningkatan kompetensi atau “upskilling” bagi peserta yang telah memiliki kemampuan dasar sesuai bidang masing-masing.
Melalui pelatihan dan sertifikasi, peserta diharapkan mampu meningkatkan keterampilan agar memenuhi standar kompetensi serta kebutuhan dunia kerja internasional.
Mukhtarudin mengatakan, peningkatan kualitas tenaga kerja terampil menjadi semakin penting di tengah bonus demografi Indonesia. Pasalnya, sejumlah negara justru menghadapi kekurangan tenaga kerja akibat meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia atau *aging population*.
Kondisi tersebut dinilai membuka peluang bagi Indonesia untuk memenuhi kebutuhan tenaga kerja di berbagai negara.
Namun, peluang itu harus diimbangi dengan peningkatan keterampilan teknis, penguasaan bahasa asing, kedisiplinan, serta pemahaman budaya kerja di negara tujuan.
“Pelatihan dalam Program SMK Go Global ini sepenuhnya dibiayai melalui APBN. Ini merupakan wujud komitmen Kementerian P2MI untuk menghadirkan pelatihan berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan pasar kerja internasional,” ujar Mukhtarudin.
Ia menjelaskan, pelaksanaan SMK Go Global berlandaskan Asta Mandala SMK Go Global. Kerangka tersebut dirancang agar kebijakan penempatan pekerja migran tidak hanya berorientasi pada jumlah tenaga kerja yang diberangkatkan, tetapi juga kualitas dan pelindungan mereka.
Program ini mendorong pencapaian Panca Sukses yang mencakup sukses kompetensi, sukses pelindungan, sukses penempatan, sukses remitansi, dan sukses tata kelola.
Kelima sasaran tersebut diharapkan menghasilkan Tri Dampak, yakni dampak sosial, peningkatan kualitas sumber daya manusia, dan dampak ekonomi.
Untuk memperluas jangkauan program, Kementerian P2MI menargetkan pembentukan 2.000 kelas pelatihan di seluruh 23 wilayah kerja BP3MI.
UKRI menjadi salah satu mitra pelaksana program tersebut. Kegiatan pelatihan di kampus itu telah berlangsung sejak awal September 2026.
Kementerian P2MI juga menetapkan target penempatan pekerja migran melalui SMK Go Global secara bertahap, yakni 40.000 orang pada 2026, 140.000 orang pada 2027, 180.000 orang pada 2028, dan 140.000 orang pada 2029.
Sementara itu, Wakil Rektor II UKRI Erdiansyah mengapresiasi kunjungan Menteri P2MI sekaligus pelaksanaan program SMK Go Global di lingkungan kampusnya.
Menurut Erdiansyah, kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah diperlukan untuk membangun ekosistem pendidikan serta pelatihan yang mampu menjawab kebutuhan pasar kerja internasional.
“Kita ingin agar ketika anak-anak muda Indonesia bekerja di luar negeri, mereka bukan hanya dikenal sebagai tenaga kerja, tetapi dikenal sebagai tenaga profesional Indonesia yang kompeten, berintegritas, berbudaya, dan mampu menjaga nama baik bangsa,” ujar Erdiansyah.
Baca juga: Prabowo Bertolak ke Maluku Utara, Luncurkan 11 Proyek Hilirisasi Senilai Rp180 Triliun
Melalui program tersebut, pemerintah berharap calon pekerja migran Indonesia memiliki keterampilan dan sertifikasi yang memadai sehingga mampu memanfaatkan peluang kerja global secara profesional, sekaligus memperoleh pelindungan melalui jalur penempatan yang legal dan aman.
Editor: Linna Susanti

