Dampak Perang Iran Menekan Ekonomi Global, Inflasi Naik dan Aktivitas Bisnis Melemah

Jakarta, Denting.id – Tekanan terhadap ekonomi global kian terasa seiring dampak perang Iran yang meluas, terutama melalui lonjakan harga energi. Kondisi ini memicu kenaikan biaya produksi, perlambatan aktivitas bisnis, serta meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi dan pasokan pangan dunia.

Sejumlah survei terbaru yang dirilis Kamis (23/4/2026) menunjukkan penurunan sentimen bisnis dan konsumen di berbagai negara. Data dari S&P Global mengindikasikan kondisi ekonomi global berpotensi memburuk dalam waktu dekat.

Kawasan zona euro menjadi salah satu wilayah yang paling terdampak. Indeks aktivitas bisnis utama turun dari 50,7 pada Maret menjadi 48,6 pada April, berada di bawah ambang 50 yang menandakan kontraksi. Sementara itu, indeks harga input melonjak tajam ke 76,9 dari sebelumnya 68,9, mencerminkan tekanan biaya produksi yang signifikan.

Sektor jasa, sebagai tulang punggung ekonomi kawasan tersebut, juga mengalami pelemahan dengan indeks turun ke level 47,4 dari 50,2, lebih rendah dari ekspektasi pasar.

“Zona euro menghadapi kesulitan ekonomi yang semakin dalam akibat perang di Timur Tengah,” ujar Chris Williamson, Kepala Ekonom Bisnis di S&P Global, seperti dikutip Reuters. Ia menambahkan bahwa kekurangan pasokan berpotensi menekan pertumbuhan sekaligus meningkatkan tekanan harga dalam beberapa pekan ke depan.

Di Amerika Serikat, aktivitas ekonomi menunjukkan perbaikan meski masih dibayangi tekanan serupa. Indeks PMI manufaktur naik ke 54,0 dari 52,3, sementara sektor jasa kembali ke zona ekspansi di level 51,3 dari sebelumnya 49,8.

Namun demikian, Williamson menilai perbaikan tersebut belum mencerminkan kondisi ekonomi yang kuat. Ia menyebut, indeks PMI April secara umum masih menunjukkan perekonomian yang kesulitan mencapai pertumbuhan tahunan di atas 1 persen.

Sementara itu, negara seperti Jepang, India, Inggris, dan Prancis mencatat peningkatan output. Kenaikan ini didorong langkah antisipatif perusahaan yang mempercepat produksi guna menghindari gangguan rantai pasok yang lebih parah.

Fenomena tersebut mengingatkan pada pola sebelumnya, ketika pelaku usaha meningkatkan produksi lebih awal untuk mengantisipasi risiko kenaikan tarif atau hambatan distribusi, yang biasanya diikuti perlambatan pada periode berikutnya.

Dari sisi korporasi, dampak konflik mulai terasa nyata. Berdasarkan tinjauan Reuters terhadap 166 perusahaan global, sebanyak 26 perusahaan memangkas atau menarik proyeksi keuangan, 38 mengindikasikan kenaikan harga, dan 32 memperingatkan dampak finansial akibat konflik.

Perusahaan besar seperti Danone dan Otis Worldwide bahkan telah menyoroti gangguan pengiriman sebagai risiko utama dalam laporan kinerja mereka.

Lonjakan harga energi juga mendorong inflasi global. Di Amerika Serikat, inflasi konsumen naik ke level tertinggi dalam hampir empat tahun pada Maret, sementara tekanan harga serupa terjadi di Inggris dan zona euro.

Meski demikian, beberapa sektor masih menunjukkan ketahanan. Investasi besar dalam kecerdasan buatan (AI) terus menopang sektor teknologi, sementara volatilitas pasar justru menguntungkan perusahaan perdagangan.

London Stock Exchange Group, misalnya, memperkirakan pertumbuhan pendapatan tahunan di kisaran atas setelah mencatat kinerja kuartal pertama yang solid, didorong lonjakan aktivitas perdagangan.

Namun, ketidakpastian tetap tinggi. Gangguan distribusi energi di jalur vital seperti Selat Hormuz menjadi faktor krusial yang dapat menentukan arah ekonomi global ke depan.

Baca juga: Sejumlah Negara Arab Tuntut Iran Bayar Ganti Rugi Perang 40 Hari dan Dampak Blokade Selat Hormuz

International Monetary Fund (IMF) bahkan telah memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,1 persen tahun ini. Lembaga tersebut juga memperingatkan potensi skenario yang lebih buruk, termasuk risiko resesi global jika konflik berlangsung berkepanjangan.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai