Denting.id – Stadion Anfield menjadi saksi momen emosional perpisahan Mohamed Salah bersama Liverpool saat menghadapi Brentford dalam laga terakhir musim Liga Primer Inggris, Ahad (24/5/2026).
Pertandingan sempat terhenti pada menit ke-73 ketika pelatih Liverpool, Arne Slot, melakukan pergantian pemain. Nomor 11 muncul di papan pergantian pemain, menandakan Salah harus meninggalkan lapangan lebih awal dan digantikan Jeremie Frimpong.
Namun, Salah tidak langsung berjalan ke tepi lapangan. Ia terlebih dahulu memberikan tepuk tangan penghormatan kepada ribuan pendukung The Reds yang memadati Anfield. Dengan langkah perlahan, pemain asal Mesir itu memeluk rekan-rekannya satu per satu, sementara para pemain Liverpool membentuk guard of honour sebagai bentuk penghormatan.
Momen haru itu juga dirasakan para pemain Brentford yang turut memberikan tepuk tangan untuk salah satu pemain terbaik dalam sejarah Liga Primer Inggris.
Beberapa langkah sebelum keluar lapangan, Salah kemudian berlutut dan bersujud di rumput Anfield. Ia mencium lapangan yang selama sembilan musim menjadi rumahnya. Sujud itu menjadi yang terakhir bagi sang “Raja Mesir” bersama Liverpool.
Musim depan, Salah dipastikan tidak lagi mengenakan seragam merah Liverpool. Penyerang berusia 33 tahun itu akan memulai petualangan baru setelah menorehkan sejarah panjang di Anfield.
Selama membela Liverpool, Salah tampil dalam 442 pertandingan di semua kompetisi dengan torehan 257 gol dan 120 assist. Ia kini tercatat sebagai pencetak gol terbanyak ketiga sepanjang sejarah klub, peraih empat Sepatu Emas Liga Primer Inggris, sekaligus pemain dengan keterlibatan gol terbanyak untuk satu klub di era Liga Primer.
Kontribusinya juga berbuah berbagai trofi bergengsi. Bersama Liverpool, Salah meraih tujuh gelar utama, termasuk trofi UEFA Champions League dan FIFA Club World Cup.
Tak hanya prestasi di lapangan, Salah juga dikenal sebagai figur yang jauh dari kontroversi. Sikap rendah hati dan identitas Muslim yang selalu ia tampilkan secara terbuka membuatnya dicintai para pendukung Liverpool di seluruh dunia.
Suasana haru semakin terasa ketika lagu kebesaran Liverpool, You’ll Never Walk Alone, diputar di Anfield. Salah yang awalnya tampak tegar akhirnya tak mampu menyembunyikan emosinya. Ia tersenyum sambil menahan air mata ketika seluruh stadion menyanyikan lagu tersebut.
Usai pertandingan, Salah menghabiskan waktu lebih lama di lapangan bersama istrinya, Magi Sadeq, dan kedua anaknya, Makka dan Kayan. Ia bahkan mengabadikan momen sang putri menendang bola ke salah satu gawang Anfield.
Kisah Salah juga melampaui sepak bola. Kehadirannya dianggap memberi dampak positif terhadap pandangan masyarakat Inggris terhadap Islam. Sebuah studi tahun 2019 dari Stanford University menemukan adanya penurunan hampir 20 persen kejahatan kebencian di wilayah Liverpool setelah Salah bergabung dengan klub tersebut. Unggahan anti-Muslim dari pendukung klub juga disebut menurun hingga setengahnya.
Meski Islamophobia masih menjadi persoalan di Inggris, banyak pihak percaya representasi positif Salah akan terus dikenang, terutama di Kota Liverpool.
Baca juga: Messi Diduga Cedera Hamstring, Argentina Dihantui Kekhawatiran Jelang Piala Dunia 2026
“Ketika Salah bersujud, itu adalah representasi yang jelas tentang siapa dia dan apa agamanya,” ujar Yusuf Yassin, pendiri klub lokal Granby Toxteth Athletic di Liverpool.

