Jakarta, Denting.id – Hubungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu dikabarkan mengalami ketegangan di tengah berlanjutnya operasi militer Israel di kawasan Timur Tengah.
Sejumlah media internasional dalam beberapa waktu terakhir menyoroti adanya perbedaan pandangan antara kedua pemimpin tersebut. Trump bahkan disebut sempat melontarkan kritik keras kepada Netanyahu terkait operasi militer besar-besaran Israel di Lebanon yang memicu kecaman dunia internasional.
Terbaru, Trump meminta Israel tidak melanjutkan serangan balasan terhadap Iran. Menurutnya, langkah tersebut berpotensi membuat Israel semakin terisolasi di panggung internasional.
Trump mengaku optimistis kesepakatan untuk mengakhiri konflik dengan Iran akan segera tercapai. Ia meyakini hal itu akan menjadi kemenangan besar bagi Amerika Serikat sekaligus berdampak pada penurunan harga minyak dunia.
“Ini akan menjadi kemenangan total. Ini akan terjadi sangat segera, dan harga minyak akan anjlok,” ujar Trump, Senin (8/6/2026).
Meski demikian, hubungan erat antara Amerika Serikat dan Israel membuat isu perseteruan keduanya dinilai tidak serta merta menunjukkan adanya keretakan serius. Trump dan Netanyahu selama ini dikenal sebagai sekutu dekat dan sama-sama mendukung operasi militer terhadap Iran sejak akhir Februari lalu.
Upaya Trump mendorong penghentian perang juga dinilai tidak terlepas dari tekanan politik dan ekonomi di dalam negeri. Popularitasnya dilaporkan mengalami penurunan setelah konflik dengan Iran berdampak pada kenaikan harga energi dan meningkatnya beban anggaran negara.
Kepala Ekonom Moody’s Analytics, Mark Zandi, dalam unggahannya di platform X pada 1 Juni menyebut perang Iran telah merugikan konsumen Amerika Serikat sekitar 100 miliar dolar AS atau rata-rata 750 dolar AS per rumah tangga.
Menurut Zandi, meningkatnya biaya hidup dipicu oleh naiknya pengeluaran militer serta terganggunya pasokan minyak dari Timur Tengah.
“Tekanan finansial meningkat dengan cepat, terutama pada rumah tangga berpenghasilan menengah dan rendah yang sudah tertekan,” kata Zandi.
Ia memperingatkan bahwa apabila perang tidak segera berakhir dan harga energi tidak turun, masyarakat akan terpaksa mengurangi pengeluaran mereka yang pada akhirnya dapat memperlambat perekonomian Amerika Serikat.
Survei Reuters/Ipsos yang dirilis pada 8 Juni menunjukkan tingkat persetujuan publik terhadap Trump berada di angka 35 persen, mendekati titik terendah pada masa jabatan pertamanya yang mencapai 33 persen pada Desember 2017.
Sebagian besar responden menyebut kenaikan harga makanan dan bensin sebagai alasan utama ketidakpuasan terhadap pemerintahan Trump.
Dengan pemilu sela yang akan berlangsung pada November mendatang, Trump masih memiliki waktu sekitar lima bulan untuk memperbaiki citranya. Jika gagal, kondisi tersebut berpotensi menjadi keuntungan bagi Partai Demokrat dalam upaya merebut kendali Kongres.
Survei Reuters/Ipsos juga menunjukkan pemilih terdaftar saat ini lebih banyak mendukung Demokrat dibandingkan Partai Republik dengan perbandingan 41 persen berbanding 37 persen.
Sementara itu, Duta Besar Israel untuk Amerika Serikat, Yechiel Leiter, berupaya meredam isu ketegangan kedua pemimpin tersebut. Dalam wawancara dengan Fox News, ia menggambarkan hubungan Trump dan Netanyahu layaknya “sepasang kekasih yang terkadang bertengkar”.
Baca juga: Iran Optimistis Kantongi Visa Piala Dunia 2026, Persiapan Tim Melli Terus Berlanjut
Leiter menegaskan bahwa Trump dan Netanyahu telah menjalin persahabatan yang mendalam selama sekitar 40 tahun dan tetap memiliki hubungan yang sangat dekat.

