Bandung, Denting.id – Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Iwan Suryawan, menyoroti kenaikan harga daging sapi di sejumlah pasar tradisional menjelang Hari Raya Iduladha 2026.
Menurut Iwan, kondisi tersebut bertolak belakang dengan melimpahnya stok hewan kurban di wilayah Jawa Barat. Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat melalui sistem iSIKHNAS, ketersediaan hewan kurban tahun ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.
Stok domba di Jawa Barat tercatat mencapai 223.812 ekor, naik dari 187.395 ekor pada tahun lalu. Sementara stok sapi kurban meningkat menjadi 120.916 ekor dari sebelumnya 99.565 ekor.
DKPP Jawa Barat menyebut melimpahnya stok hewan kurban tahun ini dipengaruhi oleh sisa hewan kurban tahun sebelumnya yang belum terserap pasar. Meski demikian, Iwan mengingatkan pemerintah daerah agar tidak hanya berpatokan pada data ketersediaan stok.
“Kita bersyukur pasokan ternak melimpah. Namun pemerintah daerah juga harus melihat kondisi masyarakat yang saat ini terbebani kenaikan harga bahan pokok,” ujar Iwan dalam keterangannya, Minggu (24/5/2026).
Berdasarkan data Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI) dan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia, harga sejumlah komoditas pangan mengalami kenaikan pada akhir Mei 2026.
Harga cabai rawit merah tercatat mencapai Rp82.000 per kilogram, sedangkan bawang merah berada di kisaran Rp56.000 per kilogram. Sementara harga daging sapi konsumsi harian di sejumlah pasar tradisional dilaporkan menembus Rp150.000 per kilogram.
Kenaikan harga tersebut terjadi di beberapa wilayah Jawa Barat, di antaranya Pasar Cicalengka, Pasar Soreang, Pasar Kordon, dan Pasar Sederhana di Kota Bandung. Di wilayah Cirebon, aplikasi e-TUKU milik Pemerintah Kota Cirebon juga mencatat harga daging sapi murni berada di kisaran Rp150.000 per kilogram.
Menurut Iwan, lonjakan harga daging sapi perlu segera ditangani karena berpotensi menurunkan kemampuan masyarakat untuk membeli hewan kurban. Ia menilai salah satu penyebab kenaikan harga berasal dari distribusi pasokan yang belum berjalan optimal dari peternak ke pasar.
“Lonjakan harga musiman seperti ini seharusnya bisa diantisipasi lebih awal apabila jalur distribusi dan logistik sudah dipetakan dengan baik,” katanya.
Selain pengawasan harga, DPRD Jawa Barat juga meminta pemerintah daerah melindungi peternak lokal dari potensi anjloknya harga jual akibat masuknya hewan ternak dari luar daerah.
Iwan mengatakan peternak lokal perlu mendapat perhatian karena telah mengeluarkan biaya besar untuk pakan dan perawatan ternak. Untuk menjaga stabilitas harga pangan menjelang Iduladha, DPRD Jawa Barat mendesak Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) segera menggelar operasi pasar dan memperluas program Gerakan Pangan Murah (GPM) di wilayah yang mengalami lonjakan harga paling tinggi.
Dari sisi kesehatan hewan, Iwan meminta pengawasan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) diperketat di pos perbatasan guna mencegah penyebaran penyakit hewan menular seperti Penyakit Mulut dan Kuku dan Lumpy Skin Disease.
Ia juga meminta pemerintah daerah menyiagakan dokter hewan untuk melakukan pemeriksaan antemortem dan postmortem terhadap hewan kurban hingga proses penyembelihan selesai.
Selain itu, Iwan menyoroti distribusi daging kurban yang dinilai masih menumpuk di kawasan perkotaan. Ia mendorong pemerintah provinsi menyusun sistem zonasi agar distribusi daging kurban dapat menjangkau masyarakat di daerah pelosok.
“Distribusi daging kurban harus lebih merata agar masyarakat di wilayah desa juga dapat merasakan manfaatnya,” ucapnya.
Baca juga: Jelang Iduladha 2026, Iwan Suryawan Sorot Harga Pangan yang Terus Naik
Iwan berharap pemerintah daerah segera mengevaluasi jalur distribusi pangan dan ternak agar masyarakat Jawa Barat dapat merayakan Iduladha dengan kondisi ekonomi yang tetap stabil.

