Bogor, denting.id — Pemerintah Kota Bogor mewajibkan seluruh siswa baru di setiap jenjang pendidikan untuk menanam satu pohon pelindung atau pohon buah pada awal tahun ajaran baru.
Kebijakan ini menjadi respons konkret pemerintah daerah terhadap tantangan perubahan iklim ekstrem yang kian mengancam kelestarian lingkungan di wilayah perkotaan.
Wali Kota Bogor, Dedie A. Rachim, menyatakan bahwa langkah ini diambil guna menyelamatkan masa depan generasi muda dari dampak pemanasan global.
Fenomena iklim yang tidak menentu, seperti El Nino dan La Nina, menjadi indikator nyata perlunya tindakan preventif yang melibatkan partisipasi aktif seluruh elemen masyarakat, termasuk siswa sekolah.
Urgensi peningkatan kualitas udara dan ruang terbuka hijau kini menjadi benteng pertahanan ekologis utama bagi kota.
Merujuk pada data laporan kualitas udara Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor tahun 2025, rata-rata konsentrasi polutan partikulat di pusat kota telah mencapai 45 µg/m³, angka yang melebihi ambang batas kenyamanan lingkungan dan menuntut penambahan vegetasi sebagai penyaring alami.
“Bila setiap anak di bangku sekolah melakukan penanaman pohon, merawat, dan memeliharanya serta dilaksanakan secara konsisten, maka ancaman pemanasan global yang nantinya mengancam masa depan kehidupan manusia dapat diredam,” ujar Dedie di Balai Kota Bogor, Minggu (12/7/2026).
Ia menegaskan bahwa anak-anak memiliki hak untuk tumbuh dan berkembang di lingkungan yang sehat. Melalui program ini, siswa diharapkan tidak hanya belajar secara akademis, tetapi juga memiliki kesadaran ekologis yang tinggi untuk mampu bertahan menghadapi kondisi lingkungan yang semakin menantang di masa depan.
Dalam pelaksanaannya, Pemkot Bogor telah menginstruksikan tiga instansi terkait, yakni Dinas Pendidikan, Dinas Lingkungan Hidup, serta Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian untuk segera menyusun regulasi teknis.
Kolaborasi lintas sektor ini diperlukan agar program penanaman berjalan tepat sasaran, baik dari pemilihan jenis bibit hingga lokasi penanaman.
Ketiga dinas tersebut ditargetkan menuntaskan aturan pelaksana sebelum kegiatan belajar mengajar dimulai pada 15 Juli 2026.
Penekanan diberikan pada konsistensi perawatan pohon, agar aksi menanam ini tidak sekadar menjadi seremonial belaka, melainkan upaya berkelanjutan dalam memperkuat ekosistem lingkungan.
Pemilihan jenis pohon juga akan disesuaikan dengan karakteristik wilayah sekolah masing-masing di Kota Bogor.
Baca juga: Dorong Ekonomi, Ketua DPRD Bogor Tekankan Koperasi Berdaya
Penggunaan pohon buah, selain memberikan dampak penghijauan, diharapkan dapat berkontribusi pada kemandirian pangan lokal dalam jangka panjang, sejalan dengan data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian tahun 2026 yang menargetkan peningkatan produksi pangan mandiri di level rumah tangga sebesar 15 persen melalui optimalisasi lahan.
Program ini menjadi bagian dari strategi mitigasi jangka panjang Kota Bogor dalam mencapai target kota ramah lingkungan. Dengan melibatkan siswa, pemerintah membangun budaya kesadaran lingkungan sejak dini, yang diharapkan mampu menciptakan perubahan gaya hidup di tingkat keluarga dan masyarakat luas.
Dedie berharap partisipasi aktif para siswa akan memberikan dampak nyata bagi penurunan suhu mikro di Kota Bogor.
Melalui gerakan kolektif ini, ia optimistis ancaman dampak pemanasan global dapat ditekan secara signifikan melalui peningkatan tutupan hijau di seluruh lingkungan sekolah dan pemukiman warga sesuai dengan agenda pembangunan lingkungan Pemkot Bogor 2026.

