Iran Tutup Selat Hormuz, Serang Negara-Negara Teluk usai Diserang AS

Jakarta, Denting.id – Ketegangan di Timur Tengah kembali memanas setelah Iran mengumumkan penutupan Selat Hormuz dan melancarkan serangan rudal serta drone ke sejumlah negara Teluk sebagai respons atas serangan Amerika Serikat (AS).

Serangan yang terjadi pada Minggu tersebut memicu sirene peringatan dan ledakan di Qatar, Uni Emirat Arab (UEA), Kuwait, Bahrain, Yordania, dan Oman. Sementara itu, Arab Saudi dan Irak tidak menjadi sasaran serangan balasan Iran.

Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) mengklaim telah menyerang pusat dukungan logistik dan fasilitas pengisian bahan bakar bagi kapal induk AS di Pelabuhan Duqm, Oman. IRGC juga menyatakan telah menghentikan sebuah kapal di Selat Hormuz karena tidak mematuhi jalur pelayaran yang ditetapkan Iran.

“Setelah insiden ini, Selat Hormuz akan ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut dan hingga berakhirnya intervensi Amerika di wilayah ini,” demikian pernyataan IRGC.

Tidak disasarnya Arab Saudi dalam serangan tersebut diduga berkaitan dengan peran Pakistan sebagai mediator dalam komunikasi Iran dan AS. Selain itu, Arab Saudi memiliki hubungan pertahanan yang erat dengan Pakistan melalui Perjanjian Pertahanan Bersama Strategis (SMDA).

Sebelumnya, Pakistan juga mengerahkan jet tempur dan pesawat pendukung ke Arab Saudi untuk memperkuat keamanan kerajaan. Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar, mengungkapkan bahwa pihaknya telah mengingatkan Iran mengenai perjanjian pertahanan tersebut.

“Saya memberi tahu pihak Iran tentang perjanjian pertahanan kami. Pihak Iran mengatakan Arab Saudi harus memastikan bahwa wilayahnya tidak digunakan untuk melawan Iran,” ujar Ishaq Dar dalam konferensi pers di Islamabad.

Di sisi lain, Arab Saudi dan Irak menegaskan komitmen mereka untuk tidak mengizinkan wilayah masing-masing digunakan sebagai basis serangan terhadap negara lain. Pernyataan itu disampaikan usai pertemuan Menteri Luar Negeri Arab Saudi Pangeran Faisal bin Farhan dan Menteri Luar Negeri Irak Fuad Hussein.

Kedua negara menekankan pentingnya menghormati kedaulatan nasional, menjaga hubungan bertetangga yang baik, tidak mencampuri urusan dalam negeri negara lain, serta menolak penggunaan wilayah suatu negara untuk mengancam keamanan kawasan.

Situasi semakin memanas setelah Amerika Serikat kembali melancarkan serangan ke Iran pada Senin (13/7/2026) dini hari. Serangan tersebut menjadi putaran keempat sejak kedua negara sebelumnya menyepakati gencatan senjata.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan operasi militer tambahan dilakukan untuk melemahkan kemampuan Iran dalam mengancam pelayaran sipil dan kapal komersial di Selat Hormuz.

Baca juga: AS Siapkan Dana Rp5.332 Triliun untuk Iran, Kesepakatan Nuklir Baru Bertaruh pada Stabilitas Ekonomi

Sementara itu, media Iran melaporkan sejumlah ledakan terjadi di wilayah selatan negara tersebut, termasuk di Bandar Abbas, Sirik, Jask, dan Pulau Qeshm. Kementerian Luar Negeri Iran mengecam serangan terbaru AS dan menyebutnya sebagai “kejahatan perang.”

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai