Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, DLH Tangerang Pantau Kualitas Udara Berkala

 

TANGERANG, Denting.id – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Tangerang, Banten, melakukan pemantauan berkala terhadap kualitas udara setelah sejumlah wilayah terpapar abu vulkanik akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau (GAK).

Pemantauan dilakukan dengan mengacu pada data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) dari ISPUNet Kementerian Lingkungan Hidup yang dihimpun melalui empat stasiun pemantauan di wilayah Kota Tangerang.

Kepala DLH Kota Tangerang, Yudi Pradana, mengatakan berdasarkan hasil pemantauan selama dua hari, kualitas udara di Kota Tangerang masih berada dalam kategori sedang.

“Kalau kita melihat data yang disajikan, kualitas udara di Kota Tangerang saat kondisi terpapar abu vulkanik masih dalam kategori sedang atau dapat diterima. Namun, kita terus mendata berkala demi memastikan kondisinya aman,” kata Yudi.

Dipantau di Empat Stasiun

Empat stasiun yang menjadi titik pemantauan kualitas udara tersebut berada di Tangerang Kali Pasir, Tangerang Pasir Jaya, Tangerang Benteng Betawi, dan Tangerang Karang Tengah.

Pemantauan dilakukan untuk melihat perkembangan kualitas udara, terutama terhadap parameter pencemar yang menjadi indikator kritis di masing-masing stasiun.

Menurut Yudi, data kualitas udara menjadi salah satu indikator penting bagi pemerintah dalam menentukan kebijakan serta mengambil keputusan yang berkaitan dengan masyarakat.

Karena itu, DLH Kota Tangerang akan terus melakukan pemantauan secara berkala untuk mengetahui perkembangan kondisi udara di wilayah tersebut.

“Kami mengimbau masyarakat untuk tetap menggunakan masker, menjaga lingkungan, mengurangi aktivitas yang dapat meningkatkan emisi, serta mengikuti informasi kualitas udara dari kanal resmi pemerintah,” ujarnya.

Erupsi GAK Masih Berlangsung

Sementara itu, Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau Pasauran, M. Nugraha Kartadinata, mengatakan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau hingga kini masih berlangsung dengan tipe strombolian.

Erupsi tersebut berpotensi melontarkan material vulkanik hingga lebih dari dua kilometer dari pusat aktivitas gunung.

“Selain abu vulkanik, erupsi ini juga melontarkan batuan. Karena itu, kami merekomendasikan agar tidak ada aktivitas warga dalam radius 3 kilometer,” kata Nugraha.

Ia juga mengingatkan wisatawan maupun masyarakat agar tidak mendekati kawasan yang masuk dalam radius bahaya.

“Kepada wisatawan atau siapa pun, saya imbau untuk tetap menjauh dari radius bahaya,” tegasnya.

Masyarakat diimbau tetap mengikuti informasi dan rekomendasi dari pemerintah serta instansi terkait, terutama terkait perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan kualitas udara di wilayah terdampak.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai