JAKARTA, Denting.id — Tsania Marwa mengungkapkan rasa bangganya saat mendampingi sang adik, Ghina Raihanah Tadjoedin, merilis buku berjudul Becoming Without Arrival. Buku tersebut menjadi refleksi perjalanan Ghina dalam memaknai kehidupan hingga memasuki usia 25 tahun.
Peluncuran buku tersebut digelar melalui acara bertajuk “Ghinarai Tadjoedin’s Immersive Literary Experience” di Museum Macan, Jakarta Barat, Minggu (20/9/2026). Dalam acara itu, Ghina turut membagikan proses kreatif dan perjalanan yang melatarbelakangi lahirnya karya tersebut.
Tsania mengatakan, meski Ghina merupakan adiknya, sosok tersebut justru kerap memberikan banyak pelajaran kepadanya. Ia bahkan mengenang masa ketika dirinya pernah membantu Ghina mengerjakan tugas puisi saat masih bersekolah.
“Ghina adalah sosok adik yang justru mengajarkan banyak hal. Fun fact-nya ketika sekolah meminta saya yang menuliskan tugas puisi. Seiring jalan waktu, ambisi dan konsistensi, itu yang membuat Ghina bisa menjadi dia hari ini,” ujar Tsania Marwa di Museum Macan, Minggu (20/9/2026).
Tsania juga menyampaikan apresiasinya terhadap perjalanan sang adik hingga mampu melahirkan sebuah buku. Menurutnya, karya yang dihasilkan Ghina merupakan bagian dari proses kreatif dan seni yang terus berkembang.
“We are so proud of you, apa pun yang Ghina lakuin, itu semua untaian sebuah seni yang akhirnya menjadi buku. Tetaplah jadi perempuan cantik dengan segala ambisi positifnya,” kata Tsania.
Sementara itu, Ghina menjadikan Becoming Without Arrival sebagai bentuk refleksi sekaligus hadiah untuk dirinya sendiri setelah memasuki usia 25 tahun.
Buku setebal 128 halaman yang diterbitkan TransMedia Pustaka tersebut lahir dari proses Ghina dalam mengamati serta memaknai perjalanan hidup selama seperempat abad.
“Sebenarnya tidak hanya diri sendiri sih, gimana aku mengobservasi gitu selama 25 tahun. Sedikit hadiah untuk aku yang kemarin juga baru berulang tahun, jadi lebih ke bagaimana aku memaknai kehidupan secara umum saja,” ujar Ghina.
Melalui Becoming Without Arrival, Ghina menuangkan hasil pengamatan dan refleksinya terhadap kehidupan dalam sebuah karya sastra. Bagi Ghina, buku tersebut menjadi bagian dari perjalanan personal sekaligus bentuk apresiasi terhadap proses yang telah dilaluinya hingga usia 25 tahun.

