Kasus Gigitan Hewan di Bogor Capai 160 Kasus, Pemkot Perkuat Pencegahan Rabies

 

BOGOR, Denting.id — Pemerintah Kota (Pemkot) Bogor memperkuat upaya pencegahan rabies menyusul masih ditemukannya kasus gigitan hewan di wilayah tersebut. Hingga 2026, tercatat sekitar 160 kasus gigitan hewan di Kota Bogor.

Hal tersebut disampaikan Wali Kota Bogor Dedie A. Rachim saat menghadiri puncak World Rabies Day (WRD) 2026 di Pelataran Kampus IPB Baranangsiang, Kota Bogor, Minggu (27/9/2026).

Dedie mengatakan, meski jumlah kasus gigitan hewan mencapai sekitar 160 kasus, penanganannya sejauh ini masih dapat dilakukan dan belum berada dalam kondisi yang sulit ditangani.

Untuk memperkuat pelayanan kesehatan hewan, Pemkot Bogor memiliki Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) di wilayah Bogor Selatan. Layanan tersebut tidak hanya menunggu masyarakat datang, tetapi juga dilakukan secara aktif melalui kegiatan vaksinasi di sejumlah wilayah.

“Selain penanganan dari Puskeswan, kami juga memiliki banyak alumni IPB, khususnya yang ada di sekitar Kota Bogor, yang memang secara jejaring (networking) bisa mempercepat proses penanganan kasus-kasus,” ujar Dedie.

Selain fasilitas milik pemerintah, Kota Bogor juga memiliki sekitar 35 klinik hewan yang dikelola pihak swasta. Keberadaan fasilitas tersebut menjadi bagian dari dukungan layanan kesehatan hewan bagi masyarakat.

Dedie juga berharap Kota Bogor memiliki rumah sakit hewan. Menurutnya, rumah sakit hewan tersebut direncanakan dibangun IPB University di Jalan Pajajaran dan ditargetkan menjadi salah satu rumah sakit hewan terbesar di Indonesia.

Puncak WRD 2026 di Bogor diisi dengan sejumlah kegiatan, antara lain vaksinasi rabies dan pemeriksaan kesehatan hewan secara gratis. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pencegahan rabies.

Dedie mengajak masyarakat untuk lebih peduli terhadap kesehatan hewan peliharaan, termasuk memastikan hewan mendapatkan vaksinasi secara berkala.

“Kita bisa mencoba untuk mengampu semua makhluk hidup yang ada di Bogor. Jadi itu rasa syukur kami dan alhamdulillah juga hari ini Gerakan Nasional Satu Aksi untuk Rabies dilaksanakan di Kota Bogor,” katanya.

Sementara itu, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, Agung Suganda, mengatakan rabies masih menjadi tantangan kesehatan hewan dan manusia di Indonesia.

Pada 2026, kejadian rabies pada hewan dilaporkan terjadi di 12 provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jambi, Riau, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Barat.

Kementerian Pertanian melakukan sejumlah upaya pengendalian melalui vaksinasi, manajemen populasi hewan pembawa rabies (HPR), surveilans dan monitoring, deteksi serta pelaporan kasus, penanganan kasus gigitan hewan penular rabies, edukasi, dan kolaborasi lintas sektor.

Pada 2026, Kementan menyediakan 205.000 dosis vaksin rabies. Selain itu, dukungan internasional melalui WHO atau Badan Kesehatan Hewan Dunia turut menyediakan 580.000 dosis vaksin sejak akhir 2025 hingga 2026 yang diperuntukkan bagi Bali dan Nusa Tenggara Timur.

Agung mengatakan jumlah vaksin tersebut masih belum memenuhi kebutuhan untuk mencapai cakupan vaksinasi minimal 70 persen HPR secara nasional. Karena itu, diperlukan dukungan pemerintah daerah, swasta, asosiasi, serta berbagai pemangku kepentingan dalam pengendalian rabies.

“Dan mudah-mudahan dengan kegiatan-kegiatan seperti ini, kesadaran masyarakat untuk bisa memvaksin hewan kesayangannya juga semakin meningkat, dan insyaallah kasus gigitan di Kota Bogor khususnya akan semakin berkurang ke depan,” ujar Agung.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai