Diduga Dipalak Tiga Kali, Siswa SMP di Sukabumi Dianiaya Kakak Kelas hingga Sulit Berjalan

 

SUKABUMI, Denting.id – Seorang siswa kelas VII SMP PGRI 2 Nagrak, Kabupaten Sukabumi, berinisial AI (12), diduga menjadi korban perundungan dan penganiayaan oleh kakak kelasnya. Akibat kejadian tersebut, korban mengalami cedera serius hingga kesulitan berjalan dan harus menjalani perawatan medis lanjutan.

Peristiwa yang diduga terjadi pada akhir September 2026 itu berlangsung di lingkungan sekolah saat jam istirahat dan pelaksanaan salat berjemaah. Kekerasan tersebut diduga dipicu persoalan pemalakan setelah korban menolak permintaan uang untuk ketiga kalinya.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMP PGRI 2 Nagrak, Sova Marwah, mengatakan berdasarkan hasil pembicaraan dengan korban dan keluarganya, terdapat dua siswa kelas VIII yang diduga terlibat langsung dalam kekerasan fisik tersebut.

“Awalnya ada lima siswa yang diduga terlibat. Namun setelah pembicaraan dengan korban dan keluarganya, ternyata hanya ada dua siswa kelas VIII yang diduga terlibat langsung dalam tindakan fisik tersebut,” kata Sova, Selasa (20/10/2026).

Pendamping korban dari Opsiga KPI Cabang Sukabumi, Arum, mengungkapkan bahwa korban mengaku telah tiga kali dimintai uang secara paksa sebelum penganiayaan terjadi.

“Kami mendapatkan informasi bahwa pelaku yang menendang itu sering malak,” kata Arum.

Akibat dugaan penganiayaan tersebut, AI mengalami kesulitan bergerak. Saat dievakuasi, korban bahkan harus ditandu warga karena tidak mampu berjalan, sementara tempat tinggalnya jauh dari akses jalan utama.

“Korban masih berbaring dan kesulitan menggerakkan kedua kakinya. Lutut kanan korban terlihat membengkak, sementara bagian pinggang juga masih terasa sakit,” ujar Arum.

Korban Jalani Pemeriksaan Medis Lanjutan

Pada Senin (19/10/2026), AI dibawa ke RSUD Sekarwangi, Cibadak, untuk mendapatkan penanganan medis lanjutan.

Humas RSUD Sekarwangi, Irman Firmansyah Saputra, menjelaskan hasil pemeriksaan awal menunjukkan pembengkakan pada lutut yang dicurigai berkaitan dengan infeksi. Korban juga mengalami cedera pada bagian panggul.

Menurut Irman, pemeriksaan radiologi diperlukan untuk menentukan tindakan medis lanjutan, termasuk kemungkinan operasi pada lutut korban.

“Untuk memastikan dioperasi atau tidaknya itu setelah ada rontgen. Cuma dicurigai sudah ada infeksi karena pembengkakan di lututnya, di dalam sendi tulang lutut,” jelas Irman.

Sementara itu, untuk membantu menstabilkan cedera pada panggul, tim medis memasang alat penopang khusus atau pelvic binder. Korban juga dikonsultasikan kepada dokter fisioterapi guna mendukung proses pemulihan.

Kasus ini menjadi perhatian menyusul dugaan kekerasan terhadap siswa di lingkungan sekolah yang berujung pada cedera serius. Penanganan medis terhadap korban masih diperlukan untuk memastikan tingkat keparahan cedera dan menentukan langkah pemulihan selanjutnya.

Editor : Linna Susanti

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai