Dua Warga Rusia Diduga Disiksa Usai Kritik Kecurangan Pemilu yang Dimenangkan Partai Putin

Jakarta, Denting.id – Dua warga Rusia ditangkap dan diduga mengalami penyiksaan setelah secara terbuka menuding adanya kecurangan dalam pemilihan parlemen pada September lalu. Keduanya diketahui merupakan aktivis lingkungan Dmitry Morozov dan pakar politik Alexander Kynev.

Penangkapan tersebut menjadi sorotan setelah keduanya diketahui mengkritik hasil pemilu yang memenangkan Partai Rusia Bersatu, partai yang mendapat dukungan Presiden Vladimir Putin.

Partai Rusia Bersatu memenangkan pemilihan parlemen atau State Duma pada September lalu. Pemerintah Rusia menyebut hasil tersebut menunjukkan tingkat dukungan dan kohesi masyarakat yang luar biasa terhadap Putin, meskipun negara itu menghadapi tekanan ekonomi akibat perang dan sanksi Barat.

Berdasarkan laporan AFP, Morozov dan Kynev kini mendekam di tahanan dengan tuduhan terkait narkoba setelah sebelumnya menyampaikan kritik terhadap pelaksanaan pemilu.

Diduga Disiksa dan Disetrum

Kasus Morozov bermula ketika ia mengunggah sejumlah video di Telegram selama pemilihan parlemen. Dalam unggahannya, ia menuding bahwa hasil pemilu telah dicurangi untuk menguntungkan Partai Rusia Bersatu.

Tidak lama setelah itu, agen Dinas Keamanan Federal Rusia (FSB) menggeledah apartemen orang tua Morozov di Izhevsk. Petugas mengaku menemukan 1,38 gram narkoba sintetis.

Morozov kemudian ditangkap. Kekasihnya, Bagina, mengungkapkan bahwa aktivis lingkungan tersebut diduga mengalami penyiksaan selama proses penangkapan.

“Saat penangkapannya, dia dipukul, disetrum di wajah, tulang rusuk, dan kakinya, serta digantung terbalik dengan kakinya diborgol,” kata Bagina dalam unggahan media sosial.

Ia juga menyebut Morozov terus ditendang setelah mengalami penyiksaan dalam waktu lama. Petugas diduga berusaha memaksanya mengaku telah memberikan dana kepada Ukraina.

Pengacara Morozov, Denis Varlamov, mempertanyakan proses hukum terhadap kliennya. Ia menilai terdapat kejanggalan karena terdakwa dalam kasus narkoba serupa biasanya mendapatkan hukuman percobaan.

“Namun, karena ada unsur politik di sini, dia langsung ditahan tanpa pemeriksaan atau diskusi apa pun,” ujar Varlamov.

Kasus tersebut bukan satu-satunya penangkapan terhadap warga yang menyuarakan kritik selama pemilu. Kelompok hak asasi manusia setempat mencatat sedikitnya 20 penangkapan sepanjang proses pemilihan.

Pakar Politik Terancam 20 Tahun Penjara

Sementara itu, Alexander Kynev juga ditangkap setelah mengkritik hasil pemilihan parlemen. Ia sebelumnya menyebut perolehan suara dan jumlah pemilih Partai Rusia Bersatu sebenarnya jauh lebih rendah dibandingkan angka resmi yang diumumkan.

Pada hari yang sama, Kynev sempat menulis di akun media sosialnya bahwa dirinya merasa sangat kelelahan setelah menjalani kampanye intensif selama empat bulan.

Dua hari kemudian, ia ditangkap di Moskow atas tuduhan perdagangan narkoba dalam skala besar. Jika terbukti bersalah, Kynev terancam hukuman hingga 20 tahun penjara.

Kynev juga mengaku mengalami pemukulan oleh polisi saat penangkapan. Ia bahkan mengikuti persidangan di pengadilan Moskow melalui konferensi video dengan kaki terbalut gips akibat dugaan patah tulang ganda.

Baca juga: Ribuan Warga Iran Demo di Teheran, Serukan Pembalasan atas Kematian Ali Khamenei

Pengacaranya, Mikhail Biryukov, turut menyoroti kondisi penahanan kliennya. Kynev disebut ditempatkan di sel yang dihuni sekitar 35 orang dengan fasilitas toilet berupa lubang di lantai.

“Mustahil digunakan bagi seseorang yang memakai gips dari pinggul hingga ujung jari kakinya,” ujar Biryukov.

Penangkapan kedua warga tersebut menambah sorotan terhadap penanganan kritik politik di Rusia, terutama setelah pemilihan parlemen yang kembali dimenangkan oleh Partai Rusia Bersatu.

Editor: Linna Susanti

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai