Jakarta, Denting.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan militer AS melancarkan serangan terbatas terhadap Iran pada Jumat (6/11/2026). Serangan tersebut dilaporkan menargetkan sistem pertahanan udara negara itu.
Berbicara kepada wartawan di West Palm Beach, Florida, Trump mengklaim operasi militer tersebut berhasil melumpuhkan sistem antipesawat Iran hanya dalam waktu beberapa menit.
“Mereka (Iran) membuat semacam alat antipesawat dan kami melumpuhkannya dalam waktu sekitar 15 menit, mungkin lima menit,” kata Trump, Jumat (6/11) malam.
Meski demikian, Trump tidak menjelaskan secara terperinci mengenai sasaran maupun lokasi serangan yang dilakukan militer AS.
Sementara itu, media pemerintah Iran melaporkan terdengar dua suara ledakan di wilayah Suza, Pulau Qeshm, pada Jumat.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) juga melaporkan bahwa sistem pertahanan udara mereka berhasil mencegat dan menghancurkan pesawat nirawak serta pesawat tempur MQ-1 di atas Pulau Qeshm pada hari yang sama.
Selain itu, dua drone pengintaian MQM-170 dilaporkan turut ditembak jatuh.
Dalam laporan terpisah, IRGC mengklaim telah menghancurkan drone MQ-9 milik Amerika Serikat di atas Selat Hormuz.
Hingga kini, belum ada informasi mengenai korban jiwa maupun tingkat kerusakan akibat serangan tersebut.
Serangan pada Jumat menjadi aksi militer terbaru Amerika Serikat terhadap Iran dalam pekan ini. Sebelumnya, pada Senin (2/11), militer AS juga melancarkan serangan terbatas ke Pulau Qeshm dan Pulau Hengam yang berada di sekitar Selat Hormuz.
Baca juga: KPK Telusuri Aliran Uang Suap Summarecon dalam Pengurusan HGB di Bogor
Rangkaian serangan tersebut berlangsung di tengah meningkatnya ancaman Trump untuk melancarkan operasi militer berskala besar terhadap Iran, termasuk dengan menggunakan bom berkekuatan sangat besar atau yang dikenal sebagai Mother of All Bombs.
Trump sebelumnya memprediksi serangan besar tersebut dapat dilakukan setelah pemilu paruh waktu Amerika Serikat.
Situasi ini semakin meningkatkan ketegangan antara Washington dan Teheran, terutama di kawasan strategis Selat Hormuz yang menjadi salah satu jalur penting perdagangan energi dunia.
Editor: Linna Susanti

