Jakarta, Denting.id – Situasi di Timur Tengah kembali memanas. Israel menyatakan berada dalam kondisi siaga penuh untuk melancarkan serangan lanjutan ke Iran, meski gencatan senjata masih berlangsung dan dinilai rapuh.
Pernyataan tersebut disampaikan Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, dalam video resmi yang dirilis Jumat (24/4/2026). Ia menegaskan bahwa militer Israel siap tidak hanya untuk bertahan, tetapi juga melakukan serangan.
“Israel siap untuk memperbarui perang melawan Iran. IDF siap dalam pertahanan dan serangan, dan target telah ditandai,” ujar Katz seperti dikutip dari The Times of Israel.
Menurut Katz, seluruh target strategis telah dipetakan. Namun hingga kini, Israel masih menunggu keputusan penting dari Amerika Serikat sebelum melangkah lebih jauh.
Sinyal “lampu hijau” dari Washington disebut menjadi faktor kunci. Israel ingin memastikan dukungan penuh dari sekutunya tersebut, terutama dalam aspek intelijen, logistik, serta antisipasi dampak jika konflik meluas ke kawasan.
Target yang disasar disebut tidak hanya mencakup fasilitas militer, tetapi juga kepemimpinan tertinggi Iran serta infrastruktur energi strategis yang menjadi penopang utama ekonomi negara tersebut.
Langkah ini dinilai berisiko tinggi. Tanpa dukungan Amerika Serikat, serangan berpotensi memicu balasan besar dari Iran dan menyeret negara-negara lain di kawasan ke dalam konflik yang lebih luas.
Di sisi lain, pertimbangan politik juga turut memengaruhi langkah Israel. Dengan menunggu restu Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, Israel berupaya menjaga legitimasi internasional sekaligus menghindari tekanan diplomatik jika bertindak sepihak.
Meski demikian, Katz memastikan bahwa rencana operasi telah disiapkan secara matang. Ia menyebut serangan lanjutan akan difokuskan pada pucuk kepemimpinan Iran, yang dianggap sebagai pusat kendali kebijakan dan operasi militer.
Penargetan tersebut dinilai sebagai langkah strategis untuk memutus rantai komando dan melemahkan kemampuan Iran dalam melanjutkan konflik.
Selain itu, Israel juga disebut berencana menyasar fasilitas energi, listrik, serta infrastruktur ekonomi nasional Iran. Hal ini mengindikasikan bahwa serangan tidak hanya bertujuan melemahkan militer, tetapi juga menekan sektor ekonomi guna meningkatkan tekanan internal terhadap pemerintah Iran.
Baca juga: Sejumlah Negara Arab Tuntut Iran Bayar Ganti Rugi Perang 40 Hari dan Dampak Blokade Selat Hormuz
Katz menegaskan bahwa operasi mendatang akan dirancang lebih agresif dan mematikan, dengan tujuan memberikan dampak maksimal terhadap kemampuan Iran dalam menghadapi konflik.

