Iran Ancam Serang Pasukan AS di Selat Hormuz, Ketegangan Timur Tengah Kian Memanas

Jakarta, Denting.id – Ketegangan di kawasan Timur Tengah kembali meningkat setelah Iran melontarkan ancaman keras kepada Amerika Serikat (AS) terkait rencana pengawalan kapal di Selat Hormuz. Teheran menegaskan akan menyerang pasukan AS jika memasuki jalur perairan strategis tersebut tanpa koordinasi.

Selat Hormuz yang menjadi jalur vital distribusi minyak dunia kini berada dalam kondisi genting. Iran diketahui telah memblokade hampir seluruh pengiriman dari Teluk selama lebih dari dua bulan, kecuali untuk kepentingannya sendiri. Dampaknya, harga minyak global melonjak tajam. Sejumlah kapal yang mencoba melintas dilaporkan ditembak, sementara beberapa lainnya disita oleh pihak Iran.

Di sisi lain, AS juga memberlakukan blokade terhadap kapal-kapal yang berasal dari pelabuhan Iran. Situasi ini memperparah konflik yang melibatkan AS, Israel, dan Iran di kawasan tersebut.

Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyatakan pihaknya akan membantu membebaskan kapal-kapal yang terjebak di Selat Hormuz. Ia mengklaim bahwa AS akan mengawal kapal-kapal agar dapat keluar dengan aman dari jalur yang dibatasi.

“Kami akan memandu kapal-kapal ini dengan aman sehingga mereka dapat kembali menjalankan aktivitas bisnis secara normal,” ujar Trump melalui unggahan di Truth Social, Minggu (3/5/2026).

Menurut Organisasi Maritim Internasional, ratusan kapal dan sekitar 20.000 pelaut saat ini terjebak akibat konflik yang berlangsung. Komando Pusat AS (CENTCOM) disebut akan mendukung operasi tersebut dengan mengerahkan sekitar 15.000 personel militer, lebih dari 100 pesawat, serta kapal perang dan drone.

Namun, Iran menegaskan tidak akan tinggal diam. Mayor Jenderal Ali Abdollahi dari komando pusat militer Iran memperingatkan bahwa setiap kehadiran militer asing, khususnya AS, akan dianggap sebagai ancaman langsung.

“Kami memperingatkan bahwa setiap pasukan bersenjata asing, terutama militer AS, yang memasuki Selat Hormuz akan menjadi sasaran dan diserang,” tegas Abdollahi.

Iran juga menegaskan bahwa keamanan Selat Hormuz sepenuhnya berada di bawah kendali angkatan bersenjata mereka, sehingga setiap jalur aman harus melalui koordinasi dengan Teheran.

Di tengah situasi ini, Iran mengusulkan tenggat waktu satu bulan untuk mencapai kesepakatan dengan AS. Proposal tersebut mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz, penghentian blokade laut, serta gencatan senjata permanen di Iran dan Lebanon.

Sementara itu, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan solusi diplomatik. Ia mendesak agar AS dan Iran membuka kembali Selat Hormuz secara terkoordinasi, dan menegaskan bahwa Eropa tidak akan terlibat dalam operasi militer yang dinilai tidak jelas.

“Pembukaan kembali secara terkoordinasi oleh AS dan Iran adalah satu-satunya solusi,” ujar Macron dalam pertemuan para pemimpin Eropa.

Baca juga: Iran Pangkas Produksi Minyak Akibat Blokade AS, Tekanan Penyimpanan Kian Meningkat

Ketegangan yang terus meningkat di Selat Hormuz kini menjadi perhatian dunia, mengingat jalur tersebut merupakan urat nadi perdagangan energi global. Jika konflik terus berlanjut, dampaknya diperkirakan akan semakin luas, tidak hanya bagi kawasan Timur Tengah tetapi juga ekonomi dunia.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai