Iran Pangkas Produksi Minyak Akibat Blokade AS, Tekanan Penyimpanan Kian Meningkat

Jakarta, Denting.id – Iran dilaporkan mulai mengurangi produksi minyak mentah akibat tekanan besar pada kapasitas penyimpanan yang dipicu oleh blokade Amerika Serikat di Selat Hormuz.

Laporan Bloomberg pada Sabtu (2/5/2026), mengutip pejabat senior Iran, menyebutkan bahwa ruang penyimpanan minyak negara tersebut semakin menipis seiring anjloknya ekspor dalam beberapa pekan terakhir.

Sejumlah pejabat yang memahami kebijakan energi Iran mengungkapkan bahwa dengan tingkat produksi saat ini, Iran hanya memiliki waktu sekitar satu bulan sebelum kapasitas penyimpanan mencapai batas maksimum.

“Seiring semakin ketatnya blokade angkatan laut AS di Selat Hormuz yang membatasi perdagangan minyak Iran, ekspor telah anjlok dan fasilitas penyimpanan dengan cepat penuh,” tulis laporan tersebut.

Sebagai langkah antisipatif, Iran disebut telah “secara proaktif” menurunkan produksi minyak mentah untuk mencegah krisis logistik yang lebih besar, alih-alih menunggu tangki penyimpanan benar-benar penuh.

Situasi ini merupakan dampak lanjutan dari konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel sejak akhir Februari 2026. Meski pertempuran telah dihentikan sementara sejak 8 April melalui gencatan senjata, ketegangan masih terasa, terutama dalam sektor energi dan perdagangan.

Iran sendiri tetap mempertahankan kendali atas Selat Hormuz sejak konflik dimulai, yang berdampak besar terhadap aliran global minyak, gas, dan pupuk. Sebagai respons, Amerika Serikat memberlakukan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Militer AS mengklaim langkah tersebut telah menghentikan ekspor minyak Iran senilai sekitar 6 miliar dolar AS. Dampaknya, tekanan ekonomi dalam negeri Iran semakin berat, dengan inflasi yang dilaporkan telah melampaui 50 persen.

Sementara itu, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan tengah meninjau proposal damai 14 poin yang diajukan Iran. Namun, ia juga memperingatkan bahwa Washington tidak menutup kemungkinan untuk melanjutkan serangan udara jika situasi kembali memburuk.

“Jika mereka melakukan sesuatu yang buruk, ada kemungkinan hal itu bisa terjadi,” ujar Trump kepada wartawan di Florida, seperti dikutip Al Jazeera.

Meski jalur diplomasi masih terbuka, Trump menunjukkan sikap skeptis terhadap peluang kesepakatan. Dalam pernyataannya di media sosial, ia menilai proposal Iran sulit diterima karena Teheran dianggap belum menanggung konsekuensi yang cukup besar atas tindakannya selama puluhan tahun terakhir.

Baca juga: Gedung Putih Klaim Perang Iran Berakhir, Trump Hindari Persetujuan Kongres

Hingga kini, perundingan antara kedua pihak masih berlangsung, sementara gencatan senjata tetap bertahan di tengah ketidakpastian arah konflik ke depan.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai