Trump Tinjau Proposal Damai Iran, Tapi Tetap Skeptis soal Peluang Kesepakatan

Jakarta, Denting.id – Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengungkapkan bahwa pemerintahannya tengah menelaah proposal terbaru dari Iran guna mengakhiri konflik yang masih berlangsung. Langkah ini menjadi bagian dari upaya diplomatik yang terus berjalan meski dibayangi keraguan dari pihak Washington.

Berbicara kepada wartawan pada Sabtu (2/5/2026) sebelum menaiki pesawat kepresidenan Air Force One, Trump menyatakan belum akan membuka rincian proposal tersebut kepada publik. Ia menyebut dokumen resmi masih dalam tahap finalisasi.

“Nanti akan saya beri tahu. Mereka akan segera memberikan kepada saya redaksi yang persisnya sekarang,” ujar Trump.

Menurut laporan dua media Iran, Tasnim News Agency dan Fars News Agency, Teheran telah mengirimkan proposal berisi 14 poin. Usulan itu disampaikan melalui Pakistan sebagai respons atas tawaran sembilan poin yang sebelumnya diajukan oleh Amerika Serikat.

Pakistan diketahui telah beberapa kali menjadi tuan rumah perundingan antara kedua negara, yang hingga kini masih mencari titik temu untuk mengakhiri ketegangan.

Namun, tak lama setelah pernyataan awalnya, Trump menunjukkan sikap lebih skeptis melalui unggahan di media sosial. Ia menyatakan meragukan proposal tersebut dapat diterima, dengan alasan Iran dinilai belum “membayar harga yang cukup besar” atas tindakannya selama puluhan tahun terakhir.

Sikap itu sejalan dengan keputusan sebelumnya, di mana Trump menolak proposal Iran yang diajukan pada awal pekan ini. Meski demikian, jalur komunikasi antara kedua pihak tetap terbuka.

Pembicaraan dilaporkan masih berlangsung, sementara gencatan senjata yang telah berjalan selama tiga minggu tetap bertahan hingga saat ini.

Baca juga: Trump Sebut Operasi Militer AS ke Iran Bukan Perang, Klaim Kekuatan Teheran Melemah

Di sisi lain, Trump juga mengemukakan gagasan baru terkait situasi di kawasan Teluk, yakni rencana membuka kembali akses di Selat Hormuz—jalur laut strategis yang menjadi salah satu titik paling vital bagi perdagangan energi global.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai