Bogor, Denting.id – SEAMEO BIOTROP bergerak cepat mendukung kemandirian pangan di Kota Hujan. Lembaga riset biologi tropis ini segera menggandeng Badan Gizi Nasional (BGN) dan Pemerintah Kota (Pemkot Bogor) untuk menyulap pekarangan rumah warga menjadi lumbung protein melalui teknologi bioflok.
Langkah ini disiapkan untuk menyuplai kebutuhan ikan pada program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang kini tengah masif dijalankan pemerintah. Berdasarkan data BGN per Mei 2026, di Kota Bogor saja sudah beroperasi 33 unit Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang melayani 110.000 siswa.
Direktur SEAMEO BIOTROP, Edi Santosa mengungkapkan, inovasi bioflok ini merupakan jawaban atas keterbatasan lahan di perkotaan. Pihaknya merancang skema di mana setiap 16 rumah warga binaan akan menjadi pemasok utama bagi satu unit SPPG di wilayah sekitarnya.
“Kami akan berkoordinasi intensif dengan BGN dan Pemkot Bogor. Ini bukti nyata teknologi bisa diterapkan di lahan sempit. Satu SPPG yang butuh 3.000 porsi ikan bisa disuplai dari koordinasi 16 rumah tangga atau sekitar dua kelompok Dasawisma,” ujar Edi di Bogor, Rabu (6/5/2026).
Edi membeberkan hitungan matematis yang cukup mencengangkan. Untuk memenuhi ribuan porsi ikan, hanya diperlukan kolam bioflok total seluas 30 meter kubik. Luasan ini setara dengan lahan berukuran 5×6 meter saja.
“Rumah tipe 21 biasanya punya sisa lahan 40 meter persegi. Jika satu rumah mengelola kolam 5×5 meter, itu sudah lebih dari cukup untuk suplai berkelanjutan,” jelasnya.
Berbeda dengan metode konvensional, teknologi bioflok menggunakan aerator dan feeder otomatis. Hasilnya, dalam tiga bulan ikan sudah mencapai bobot setengah kilogram per ekor dengan kualitas yang seragam.
Selain urusan perut, program ini mengusung misi lingkungan. Dengan konsep low food miles, jarak antara kolam warga dengan sekolah menjadi sangat dekat. Hal ini membuat ikan tetap segar saat dikonsumsi dan menghemat biaya transportasi secara signifikan.
Menariknya, bagi warga Bogor, kolam bioflok ini memiliki fungsi ganda sebagai waduk retensi air hujan.
“Air hujan di Bogor jangan sampai langsung lari ke Ciliwung dan bikin banjir Jakarta. Kita tampung di kolam-kolam ini untuk budidaya. Jadi, ekonomi dapat, lingkungan juga terjaga,” tegas Edi.
Sejauh ini, BIOTROP terus memberikan pelatihan kepada sekolah-sekolah dan masyarakat agar teknologi ini bisa direplikasi secara masif, sekaligus mendukung cita-cita Presiden Prabowo dalam menciptakan ketahanan pangan nasional dari level rumah tangga.

