Cendekiawan UEA Sebut Netanyahu Penjahat Perang, Bantah Kunjungan Rahasia ke Emirat

Jakarta, Denting.id – Cendekiawan asal Uni Emirat Arab, Abdulkhaleq Abdulla, melontarkan kritik keras terhadap Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, dengan menyebutnya sebagai “penjahat perang” yang tidak diterima di tanah Emirat.

Pernyataan itu muncul setelah Kementerian Luar Negeri UEA membantah kabar mengenai kunjungan rahasia Netanyahu untuk bertemu Presiden UEA Mohammed bin Zayed Al Nahyan pada Maret lalu.

Sebelumnya, kantor Netanyahu mengklaim bahwa sang perdana menteri melakukan kunjungan tertutup ke UEA di tengah memanasnya perang antara AS-Israel melawan Iran.

“Tidak ada sambutan sama sekali bagi seorang penjahat perang dan pembunuh anak-anak Gaza di tanah suci Emirat,” tulis Abdulkhaleq Abdulla melalui akun X miliknya, Kamis.

Ia juga menuding Netanyahu menyebarkan informasi palsu demi kepentingan politik domestik.

“Kunjungan yang dibicarakan Netanyahu adalah rekayasa dari imajinasinya yang sakit. Dia dikenal sebagai pembohong ulung yang menyebarkan kebohongan demi tujuan elektoral oportunistik,” lanjutnya.

Dalam pernyataan resminya, Kementerian Luar Negeri UEA menegaskan hubungan negaranya dengan Israel berlangsung secara terbuka dalam kerangka Abraham Accords yang diumumkan secara resmi sejak 2020.

Menurut UEA, hubungan bilateral tidak dibangun melalui pengaturan rahasia maupun jalur tidak resmi.

Namun, sejumlah sumber Israel dan Arab mengklaim bahwa pertemuan Netanyahu dengan Mohammed bin Zayed memang berlangsung pada 26 Maret di kota oasis Al-Ain yang berada dekat perbatasan Oman.

Editor intelijen dan keamanan nasional Haaretz, Avi Scharf, bahkan mengungkap bahwa dua jet bisnis Israel yang biasa digunakan untuk penerbangan VVIP mendarat di Al-Ain dan kembali ke Israel sekitar empat jam kemudian pada malam yang sama.

Data pelacakan penerbangan juga disebut memperlihatkan dua jet tersebut berangkat dari Tel Aviv menuju Al-Ain sebelum kembali beberapa jam kemudian.

UEA sendiri menjadi negara Teluk pertama yang menormalisasi hubungan dengan Israel melalui Abraham Accords pada 2020 di bawah pemerintahan pertama Presiden AS Donald Trump.

Baca juga: China Kritik Perang AS-Israel terhadap Iran, Xi Jinping Dorong Jalur Dialog

Sejak perang AS-Israel melawan Iran pecah pada 28 Februari lalu, hubungan keamanan dan intelijen antara UEA, Israel, dan AS disebut semakin erat, meski di sisi lain juga memicu sorotan tajam dari publik kawasan Arab.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai