Bandung, Denting.id – Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Iwan Suryawan, menyoroti kondisi menjelang Hari Raya Iduladha 2026 yang dinilainya janggal. Di tengah melimpahnya stok hewan kurban di Jawa Barat, harga daging sapi di pasar tradisional justru melonjak tinggi hingga mencapai Rp150 ribu per kilogram.
Berdasarkan data Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Jawa Barat melalui sistem iSIKHNAS, ketersediaan hewan kurban tahun ini mengalami peningkatan signifikan. Stok domba tercatat mencapai 223.812 ekor, naik dibanding tahun lalu sebanyak 187.395 ekor.
Sementara itu, stok sapi kurban juga meningkat menjadi 120.916 ekor dari sebelumnya 99.565 ekor. DKPP Jabar menyebut melimpahnya stok tahun ini dipengaruhi sisa hewan kurban tahun lalu yang belum terjual.
Meski demikian, Iwan meminta pemerintah daerah tidak terlena dengan tingginya angka stok ternak. Menurutnya, persoalan utama saat ini justru ada pada menurunnya daya beli masyarakat akibat mahalnya kebutuhan pokok.
“Kita bersyukur pasokan ternak kita melimpah berdasarkan data iSIKHNAS. Namun pemerintah daerah jangan tutup mata, niat warga untuk berkurban saat ini terbentur dengan harga kebutuhan pokok yang terus merangkak naik,” kata Iwan.
Ia menyoroti data dari Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (Ikappi) dan PIHPS Bank Indonesia yang menunjukkan kenaikan harga sejumlah komoditas pangan di akhir Mei. Harga cabai rawit merah tercatat naik hingga Rp82 ribu per kilogram, sedangkan bawang merah bertahan di angka Rp56 ribu per kilogram.
Di sisi lain, harga daging sapi konsumsi harian juga melonjak hingga Rp150 ribu per kilogram di sejumlah pasar tradisional Jawa Barat, seperti Pasar Cicalengka, Pasar Soreang, Pasar Kordon, dan Pasar Sederhana di Kota Bandung. Kondisi serupa juga tercatat di wilayah Cirebon berdasarkan aplikasi e-TUKU milik Pemkot Cirebon.
Menurut Iwan, kenaikan harga daging sapi tersebut berpotensi menggerus tabungan masyarakat yang seharusnya digunakan untuk membeli hewan kurban.
“Lonjakan harga daging sapi sampai seratus lima puluh ribu rupiah di pasar-pasar tradisional Bandung dan Cirebon ini bikin pusing emak-emak jelang hari raya. Ini yang harus segera dibenahi pemerintah,” tegasnya.
Politisi PKS itu menilai persoalan distribusi menjadi salah satu akar masalah naiknya harga daging di pasar. Ia meminta pemerintah memperbaiki jalur distribusi dari peternak hingga pasar agar lonjakan harga musiman dapat diantisipasi sejak dini.
Menurutnya, tugas pemerintah menjelang Iduladha tidak hanya sebatas memeriksa kesehatan hewan kurban di lapak pedagang. Stabilitas harga kebutuhan pokok juga harus menjadi perhatian utama.
Selain itu, DPRD Jabar meminta pemerintah melindungi peternak lokal dari ancaman anjloknya harga akibat masuknya pasokan hewan ternak dari luar daerah secara berlebihan.
“Dinas terkait harus melindungi peternak lokal kita di Jabar. Jangan sampai banjirnya pasokan dari luar daerah justru merusak harga jual peternak kita sendiri yang sudah keluar modal besar untuk pakan dan perawatan,” ujar Iwan.
Ia juga mendesak Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Jawa Barat segera menggelar operasi pasar besar-besaran melalui program Gerakan Pangan Murah (GPM), khususnya di wilayah dengan lonjakan harga tertinggi.
Dari sisi kesehatan hewan, Iwan meminta pengawasan Surat Keterangan Kesehatan Hewan (SKKH) diperketat di pos perbatasan guna mencegah penyebaran penyakit menular seperti PMK dan LSD.
Tak hanya pemeriksaan antemortem sebelum penyembelihan, ia juga meminta pemerintah daerah menyiagakan dokter hewan hingga hari pemotongan untuk memastikan kualitas daging kurban melalui pemeriksaan postmortem di masjid-masjid.
Iwan turut menyoroti distribusi daging kurban yang selama ini dinilai menumpuk di kawasan perkotaan dan perumahan besar.
“Kita butuh pemerataan. Distribusi daging kurban jangan cuma menumpuk di kota. Pemprov harus membuat sistem zonasi agar daging kurban ini sampai ke tangan masyarakat di pelosok desa yang lebih membutuhkan,” jelasnya.
Baca juga: Wakil Ketua DPRD Jabar Iwan Suryawan Jadikan Rumahnya Posyandu dan Tempat Berbagi
Ia menegaskan, Iduladha yang sukses bukan hanya soal lancarnya ibadah kurban, tetapi juga bagaimana pemerintah mampu menjaga stabilitas ekonomi masyarakat di tengah tingginya harga kebutuhan pokok.

