Analis Prediksi Rupiah Berpotensi Melemah, Pasar Tunggu Data Ekonomi AS dan Inflasi RI

Jakarta, Denting.id – Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi melemah pada perdagangan Senin (29/6/2026). Pelemahan tersebut dipengaruhi oleh sikap pelaku pasar yang mengantisipasi rilis sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat.

Meski demikian, pada pembukaan perdagangan Senin pagi, rupiah justru menguat 63 poin atau 0,35 persen ke level Rp17.859 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di posisi Rp17.922 per dolar AS.

Namun, Rully memperkirakan penguatan tersebut tidak akan bertahan lama karena tekanan dari sentimen global masih cukup kuat.

“Rupiah pada perdagangan hari ini diperkirakan melemah dengan kisaran di Rp17.900 per USD hingga Rp17.950 per USD,” kata Rully di Jakarta, Senin.

Menurutnya, pergerakan rupiah akan sangat dipengaruhi oleh rilis data Non-Farm Payroll (NFP) Amerika Serikat yang menjadi salah satu indikator utama kondisi pasar tenaga kerja Negeri Paman Sam.

Data NFP diperkirakan berada di angka 114 ribu, turun dibandingkan capaian bulan sebelumnya yang mencapai 172 ribu. Hasil data tersebut dinilai akan menjadi acuan pasar dalam membaca arah kebijakan moneter bank sentral AS ke depan.

Selain itu, sentimen global juga datang dari forum European Central Bank (ECB) Forum, yang memunculkan ekspektasi bahwa bank-bank sentral dunia masih akan mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama.

Dari dalam negeri, pelaku pasar masih menantikan rilis data neraca perdagangan serta inflasi Indonesia yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu (1/7/2026).

“NFP data AS diperkirakan 114 ribu menurun dari 172 ribu, neraca perdagangan Indonesia masih surplus dengan pencapaian diperkirakan USD1,18 miliar,” ujar Rully.

Baca juga: Menhub Siapkan Stimulus Transportasi Selama Libur Sekolah dan Nataru, Tiket KA hingga Pesawat Didiskon

Ia menilai kombinasi sentimen global dan domestik tersebut akan menjadi faktor utama yang menentukan arah pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan. Pemerintah dan pelaku pasar pun terus mencermati perkembangan ekonomi global guna mengantisipasi potensi volatilitas di pasar keuangan.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai