Wakil Ketua DPRD Jabar Usulkan Zero-Isolation Policy dan Insentif RT/RW untuk Perkuat Siskamling Digital

Bandung, Denting.id – Wakil Ketua DPRD Jawa Barat, Iwan Suryawan, mengusulkan penerapan Zero-Isolation Policy sebagai bagian dari penguatan sistem keamanan lingkungan berbasis Siskamling Digital. Kebijakan tersebut diharapkan mampu mempersempit ruang gerak pelaku penyekapan maupun kekerasan domestik di wilayah Jawa Barat.

Menurut Iwan, setiap pemerintah daerah perlu menyusun aturan lokal yang mewajibkan verifikasi berkala terhadap rumah tertutup maupun pengontrak baru. Verifikasi itu tidak hanya dilakukan saat serah terima kunci, tetapi juga secara rutin sebagai bagian dari sistem deteksi dini di lingkungan masyarakat.

“Kita butuh ‘Intelijen Komunitas’ di kota-kota besar. Tetangga tidak boleh lagi sekadar jadi penonton atau bersikap acuh tak acuh, tapi harus menjadi sensor deteksi dini. Jika ada rumah yang mengisolasi diri secara ekstrem dari lingkungan, pengurus RT/RW harus memiliki hak intervensi legal untuk melakukan pengecekan atau ‘audit sosial’ bersama aparat setempat,” ujar Iwan.

Selain memperkuat pengawasan, legislator tersebut juga mengusulkan pemberian insentif fiskal bagi lingkungan yang aktif menjaga keamanan wilayahnya. Ia mengusulkan Insentif Kesiapsiagaan Sosial sebesar Rp5 juta hingga Rp10 juta per tahun bagi kas RT/RW yang berhasil mengintegrasikan sistem Siskamling Digital dan mempertahankan wilayahnya tetap aman.

Tak hanya itu, Iwan juga mengusulkan Reward Stimulan hingga Rp50 juta bagi kelurahan atau desa terbaik yang dinilai berhasil menerapkan sistem tersebut. Anggaran itu diharapkan dapat dialokasikan melalui pos bantuan sosial APBD daerah maupun optimalisasi Dana Desa.

Melalui pendekatan berbasis teknologi, pemberian stimulus anggaran, serta penguatan hak intervensi komunitas, Iwan optimistis upaya pencegahan terhadap kasus penyekapan dan kekerasan domestik di Jawa Barat dapat berjalan lebih efektif.

Baca juga: Kuota SPMB Terbatas, Iwan Suryawan Ajak Warga “Bangga Sekolah Swasta”

Ia berharap perubahan pola pikir masyarakat juga ikut terbangun, sehingga stigma “tidak enak ikut campur urusan orang” dapat bergeser menjadi kepedulian bersama untuk melakukan deteksi dini dan menyelamatkan nyawa sebelum terjadi tindak kekerasan yang lebih fatal.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai