Warga Iran Dihantui Ketidakpastian Meski Gencatan Senjata Berlaku

Jakarta, Denting.id – Meski gencatan senjata antara Iran, Amerika Serikat (AS), dan Israel telah diumumkan, banyak warga Iran mengaku masih hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian. Ancaman serangan, retorika balasan, dan negosiasi diplomatik yang terus berubah membuat tekanan psikologis masyarakat semakin meningkat.

Sejumlah warga menilai kondisi saat ini lebih melelahkan daripada perang itu sendiri. Ketidakjelasan mengenai kapan konflik benar-benar berakhir membuat mereka kesulitan merencanakan masa depan, baik dalam pekerjaan, keluarga, maupun kehidupan sehari-hari.

Seorang pengacara di Teheran yang identitasnya dirahasiakan mengatakan kepada DW bahwa ketidakpastian menjadi beban terbesar yang dirasakan masyarakat.

“Ketika Anda tidak tahu kapan perang benar-benar berakhir, tekanan yang dirasakan menjadi sangat besar,” ujarnya.

Ia mengaku kehilangan motivasi untuk bekerja, memulai hal baru, bahkan merasa semakin sulit berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya.

Keluhan serupa disampaikan seorang warga di Kota Isfahan. Menurutnya, kondisi yang terus berubah antara harapan damai dan ancaman perang telah mengikis rasa aman masyarakat.

“Kami benar-benar kehilangan harapan. Ketidakstabilan ini membuat kondisi mental kami seperti dipermainkan,” katanya.

Sementara itu, seorang perawat di wilayah barat Iran menilai generasi muda menjadi kelompok yang paling terdampak karena belum pernah mengalami konflik berkepanjangan seperti perang Iran-Irak pada 1980-1988.

Baca juga: AS Siapkan Dana Rp5.332 Triliun untuk Iran, Kesepakatan Nuklir Baru Bertaruh pada Stabilitas Ekonomi

Ia mengatakan banyak orang kini hanya berusaha bertahan menjalani hari demi hari tanpa mampu membuat rencana jangka panjang. Di rumah sakit tempatnya bekerja, ia juga melihat semakin banyak pasien yang mudah marah, frustrasi, dan emosional, yang menurutnya mencerminkan tekanan sosial akibat ketidakpastian yang terus berlangsung.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai