Puncak Sejak Era Kolonial Jadi Tempat “Healing”, Kini Terhimpit Ledakan Pariwisata

 

Bogor,Denting.id – Jauh sebelum istilah healing menjadi bagian dari percakapan sehari-hari, kawasan pegunungan di selatan Batavia telah menjadi tempat bagi masyarakat untuk sejenak menjauh dari panas, kepadatan, dan rutinitas kehidupan kota kolonial.

Perjalanan ke arah selatan kala itu bukan sekadar perpindahan geografis. Suasana berubah perlahan, dari jalanan kota yang ramai menuju udara yang lebih sejuk, pepohonan yang lebih rapat, serta bentang alam yang terbuka.

Buitenzorg, nama Bogor pada masa kolonial, digambarkan Eliza Ruhamah Scidmore dalam Java, the Garden of the East (1897) sebagai “the cooler capital”, atau ibu kota yang lebih sejuk, yang berada di kawasan perbukitan sekitar 40 mil dari Batavia.

Dari Buitenzorg, perjalanan kemudian dapat dilanjutkan menuju kawasan yang lebih tinggi seperti Poentjak atau Puncak, Sindanglaya, Cibodas, hingga Gunung Gede.

Rangkaian perjalanan tersebut menunjukkan bahwa kawasan pegunungan selatan Batavia mulai dipandang sebagai satu kesatuan tujuan wisata.

Panduan Java: The Wonderland yang diterbitkan Java Tourist Bureau di Batavia pada 1909, misalnya, menyusun perjalanan dari Buitenzorg menggunakan kereta kuda melewati Poentjak Pass, kemudian menuju Sindanglaya, Cibodas, hingga Gunung Gede.

Dengan demikian, Puncak sejak awal bukan hanya berfungsi sebagai jalur yang menghubungkan satu wilayah dengan wilayah lainnya. Kawasan ini tumbuh sebagai lanskap wisata yang menawarkan udara sejuk, pemandangan gunung, hutan, sawah, dan suasana yang berbeda dari Batavia.

Jejak ketertarikan terhadap kawasan tersebut bahkan telah terlihat dalam catatan Maurits Ver Huell, seorang perwira Belanda yang melakukan perjalanan keliling Jawa pada awal abad ke-19.

Dalam catatan perjalanannya, Ver Huell menyinggung Buitenzorg, Puncak Pass, hingga Telaga Warna. Ia menggambarkan lanskap Hindia dengan hutan lebat, hamparan sawah hijau, vegetasi tropis, serta gunung-gunung berapi yang menjadi latar.

Catatan Ver Huell tentu perlu dibaca sebagai kesaksian seorang pelancong kolonial, bukan laporan ilmiah modern. Penggambarannya merupakan hasil pengamatan personal yang tidak terlepas dari cara pandang pada zamannya.

Namun, catatan tersebut memperlihatkan bagaimana alam pegunungan Jawa mulai ditempatkan sebagai sesuatu yang layak dikunjungi, dinikmati, dan kemudian dipromosikan sebagai daya tarik perjalanan.

Alam Mulai Dijual sebagai Destinasi

Memasuki awal abad ke-20, ketika pemerintah kolonial mulai mengembangkan pariwisata secara lebih modern, alam menjadi salah satu daya jual utama.

Panduan wisata tidak lagi sekadar memberikan petunjuk perjalanan. Literatur tersebut turut membentuk cara wisatawan memandang suatu tempat. Jawa dipromosikan melalui gambaran tentang pemandangan tropis, jalur pegunungan, perkebunan, udara sejuk, serta panorama gunung.

Puncak berada di tengah proses tersebut.

Perjalanan menuju kawasan pegunungan mulai dikemas dalam format wisata yang lebih teratur dan komersial. Kendaraan, jalur perjalanan, waktu tempuh, hingga tempat persinggahan dicatat dan ditawarkan kepada calon pelancong.

Alam pun perlahan tidak lagi sekadar menjadi latar perjalanan, tetapi berubah menjadi tujuan itu sendiri.

Sejak masa tersebut, orang datang ke Puncak untuk mencari sesuatu yang tidak mereka dapatkan di kota.

Mereka meninggalkan Batavia yang panas dan padat untuk menuju wilayah yang lebih hijau, sejuk, dan terbuka. Dalam pengertian sederhana, fungsi tersebut memiliki kemiripan dengan apa yang kini disebut sebagai healing: mengambil jeda, menghirup udara yang berbeda, menikmati alam, dan menjauh sementara dari rutinitas perkotaan.

Namun, lebih dari satu abad kemudian, daya tarik tersebut melahirkan sebuah paradoks.

Orang terus datang ke Puncak untuk mencari udara sejuk, pepohonan, dan bentang pegunungan. Tetapi untuk melayani kedatangan wisatawan, dibutuhkan semakin banyak fasilitas seperti hotel, vila, restoran, taman rekreasi, jalan, dan berbagai infrastruktur lainnya.

Sedikit demi sedikit, bangunan dan aktivitas wisata tersebut mengambil ruang dari alam yang sejak awal justru menjadi alasan kawasan Puncak didatangi.

Puncak akhirnya berada dalam situasi yang serba berlawanan.

Semakin banyak orang ingin menikmati alamnya, semakin besar kebutuhan untuk membangun fasilitas wisata. Sebaliknya, semakin banyak fasilitas berdiri, semakin besar pula tekanan terhadap ruang terbuka, kawasan resapan, perkebunan, dan hutan.

Paradoks itulah yang menjadi tantangan Puncak hari ini: bagaimana mempertahankan kawasan pegunungan sebagai tempat untuk beristirahat dari hiruk-pikuk kota, tanpa menghilangkan alam yang membuat orang datang ke sana sejak lebih dari satu abad lalu.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai