Udara Jakarta Tak Sehat, Pemprov DKI Berupaya Picu Hujan Lewat OMC

 

JAKARTA, Denting.id — Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta melanjutkan operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk memicu hujan di tengah kualitas udara Ibu Kota yang masih tergolong tidak sehat. Upaya ini dilakukan untuk membantu memperbaiki kondisi udara menjelang penyelenggaraan Jakarta Running Festival (JRF) 2026 pada 24–25 Oktober.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengatakan, operasi modifikasi cuaca telah dilakukan melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta sejak Kamis (22/10/2026).

Menurut Pramono, penyemaian awan dilakukan di wilayah perbatasan Bogor dan Tangerang Selatan. Namun, hujan yang diharapkan turun di Jakarta justru terjadi di sekitar kawasan perbatasan tersebut.

“Dari kemarin sebenarnya Pemerintah DKI Jakarta melalui Badan Penanggulangan Bencana sudah melakukan OMC, tepatnya di perbatasan Bogor dan Tangsel. Hanya memang awannya itu sekarang dari kemarin masih di sana, maka hujan terjadi di perbatasan,” ujar Pramono di kawasan Gelora Bung Karno (GBK), Tanah Abang, Jakarta Pusat, Jumat (23/10/2026).

Pemprov DKI berencana melanjutkan operasi modifikasi cuaca hingga Sabtu (24/10/2026). Pramono berharap hujan dapat turun di sejumlah wilayah Jakarta, khususnya Jakarta Selatan dan Jakarta Barat.

“Malam ini mudah-mudahan Jakarta Selatan dan Jakarta Barat bisa turun hujan dan untuk besok kami tetap melakukan modifikasi cuaca,” katanya.

Indeks Kualitas Udara Jakarta Capai 157

Berdasarkan data pemantauan IQAir yang dikutip dalam laporan tersebut, indeks kualitas udara Jakarta pada Jumat (23/10/2026) pukul 18.20 WIB mencapai 157. Sementara itu, konsentrasi partikel halus PM2.5 tercatat sebesar 64 mikrogram per meter kubik.

Angka tersebut menempatkan kualitas udara Jakarta dalam kategori tidak sehat. Paparan PM2.5 dapat berdampak terhadap kesehatan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki gangguan pernapasan.

Pramono memastikan kondisi polusi udara Jakarta saat ini tidak berkaitan dengan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Indonesia.

“Yang berkaitan dengan udara Jakarta, yang jelas sekarang ini tidak ada efek dari kebakaran hutan yang ada di mana pun. Bahwa udara Jakarta belum sempurna, iya,” ujarnya.

Di tengah kondisi tersebut, masyarakat diimbau membatasi aktivitas berat di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk. Penggunaan masker yang mampu menyaring partikel halus juga dapat menjadi langkah perlindungan saat beraktivitas di luar.

Operasi modifikasi cuaca diharapkan membantu memperbaiki kondisi udara Jakarta. Namun, pengendalian sumber emisi dan pemantauan kualitas udara tetap diperlukan untuk menangani persoalan polusi secara berkelanjutan.

Editor : Linna Susanti

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai