Bukan Sekadar Panggung Global, DPR Nilai Pidato Prabowo di Davos Jadi Kompas Arah Indonesia

Jakarta, denting.id – Pidato Presiden Prabowo Subianto di forum elite dunia World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, dinilai bukan sekadar penampilan simbolik di hadapan pemimpin global, melainkan penegasan arah strategis bangsa Indonesia di tengah ketidakpastian dunia.

Anggota Komisi II DPR RI Azis Subekti menilai, di saat dunia dihadapkan pada konflik geopolitik, fragmentasi ekonomi, serta krisis kepercayaan global, pilihan Indonesia untuk mengangkat isu stabilitas, perdamaian, dan disiplin ekonomi mencerminkan sikap rasional yang semakin jarang ditemui.

“Pidato itu lebih dari sekadar siapa yang berbicara. Ia bicara tentang ke mana bangsa ini hendak melangkah,” kata Azis di Jakarta, Senin.

Azis mengakui bahwa kritik terhadap pidato Prabowo memang bermunculan, bahkan sebagian bernada keras dan personal. Namun menurutnya, kritik tersebut kerap lebih menyoroti figur ketimbang substansi pesan yang disampaikan.

Ia menilai, publik Indonesia justru menunjukkan sikap yang lebih dewasa. Bukan menolak, tetapi juga tidak serta-merta mengagungkan.

“Mereka mendengar, mencatat, lalu menunggu. Bukan menunggu pidato berikutnya, tetapi menunggu apakah arah yang disampaikan benar-benar diwujudkan dalam kerja nyata,” ujarnya.

Menurut Azis, sejumlah pernyataan Presiden Prabowo yang sebelumnya diragukan kini mulai menemukan pembuktiannya di lapangan. Mulai dari penertiban kawasan hutan yang selama bertahun-tahun terbengkalai, pencabutan izin pemanfaatan hutan, hingga penindakan tegas terhadap tambang ilegal tanpa pandang bulu.

“Termasuk langkah penegakan hukum terhadap koruptor yang sebelumnya seolah kebal. Bukti-bukti itu sudah lebih dulu hadir sebelum pidato di Davos disampaikan,” kata dia.

Karena itu, Azis menilai pidato Presiden Prabowo seharusnya dibaca sebagai kelanjutan dari proses pembuktian kinerja, bukan sekadar awal janji baru di forum internasional.

Ia menegaskan legitimasi kepemimpinan hari ini tidak lagi bertumpu pada retorika, melainkan kesinambungan antara kata dan tindakan.

“Ketika kerja sama internasional benar-benar berujung pada investasi, lapangan kerja tercipta, dan ketahanan pangan serta energi diperkuat, maka arah yang ditegaskan di Davos memperoleh maknanya yang nyata,” ujarnya.

Azis menambahkan, kritik akan selalu menjadi bagian dari dinamika demokrasi. Namun ketika arah sudah ditegaskan dan jejak kerja telah terlihat, penentu utamanya bukan lagi perdebatan niat, melainkan konsistensi dalam melangkah.

“Di sanalah pidato itu menemukan maknanya, bukan sebagai momen sesaat, tetapi sebagai kompas,” tutupnya.

 

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai