Pangeran Yordania Kecam Penutupan Masjid Al Aqsa oleh Israel, Sebut Sinyal Berbahaya

Jakarta, Denting.id – Pangeran Hassan bin Talal dari Yordania mengecam langkah Israel yang menutup akses salat di Masjid Al Aqsa. Ia menyebut kebijakan tersebut sebagai sinyal berbahaya yang dapat memperburuk situasi di kawasan Timur Tengah.

Dalam wawancara dengan radio Hayat FM pada Minggu (15/3/2026), Hassan menilai penutupan itu kembali menempatkan isu Palestina di pusat perhatian publik dunia Arab. Pernyataan tersebut disampaikan dalam program penggalangan dana untuk Asosiasi Bantuan Medis untuk Palestina.

Ia menyoroti bahwa kawasan Timur Tengah saat ini mengalami perubahan yang sangat cepat, sehingga memerlukan peninjauan ulang terhadap posisi politik negara-negara di kawasan. Menurutnya, dinamika konflik semakin kompleks seiring berkembangnya ketegangan antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.

Mengutip Middle East Monitor, Hassan juga menyinggung pandangan sejumlah negara Teluk yang dinilai ingin memisahkan konflik Arab-Israel dari ketegangan geopolitik yang lebih luas. Namun, ia tidak merinci negara-negara yang dimaksud.

Ia menggambarkan kawasan Levant sebagai “tempat lahir tragedi” dan menilai aspek kemanusiaan dalam isu Palestina kerap terabaikan, meskipun terdapat perkembangan dalam hukum internasional. Hassan turut menyoroti peran Mahkamah Internasional yang dinilai memperkuat posisi Palestina secara hukum.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai kemanusiaan dalam setiap kebijakan politik dan hukum, serta memperingatkan bahwa perluasan permukiman Israel di Gaza dan Tepi Barat harus mendapat perhatian serius. Menurutnya, hal tersebut berkaitan dengan keberlangsungan identitas Arab dan Islam serta berpotensi mengancam stabilitas kawasan.

Sebelumnya, pada Rabu (4/3), militer Israel menutup Masjid Al Aqsa selama tiga hari berturut-turut dengan alasan keamanan di tengah situasi yang tidak stabil. Penutupan dilakukan sebagai langkah darurat setelah pecahnya konflik dengan Iran pada 28 Februari lalu.

Baca juga: Pemimpin Hizbullah Siap Hadapi Perang Panjang dengan Israel, Lebanon Terancam Kerusakan Infrastruktur

Selama penutupan, warga Palestina tidak diizinkan memasuki kompleks masjid untuk beribadah. Akses menuju kawasan juga diperketat, bahkan sejumlah saksi menyebut jemaah yang mencoba mendekati gerbang diminta kembali, sementara sebagian wilayah Kota Tua dijadikan area militer tertutup.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai