Bogor, Denting.id – Ribuan warga Muhammadiyah di wilayah Kota Bogor dan sekitarnya memadati Lapangan Sempur untuk melaksanakan ibadah shalat Idul Fitri 1447 Hijriah pada Jumat (20/3/2026) pagi. Pelaksanaan ini didasarkan pada metode Hisap Hakiki Wujudul Hilal yang telah ditetapkan oleh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Bogor, Maizar Madsuri, menjelaskan bahwa penetapan 1 Syawal tahun ini merujuk pada implementasi Kalender Hijriah Global Tunggal. Berdasarkan metode tersebut, bulan baru dianggap telah masuk meski posisi hilal masih berada di ketinggian rendah (sekitar satu derajat).
“Muhammadiyah hari ini melaksanakan shalat Idul Fitri bertepatan dengan 20 Maret 2026. Ini adalah kebijakan mengikat bagi seluruh warga persyarikatan,” ujar Maizar saat ditemui di lokasi.
Menghargai Perbedaan
Terkait adanya potensi perbedaan waktu perayaan dengan pemerintah, Maizar menegaskan bahwa pihaknya telah menjalin komunikasi intensif dengan Pemerintah Kota Bogor jauh-jauh hari. Ia menyebut perbedaan ini lumrah terjadi karena adanya perbedaan kriteria antara metode hisab yang digunakan Muhammadiyah dengan kriteria MABIMS yang dipegang pemerintah.
“Kami tetap menghormati dan menghargai keputusan pemerintah. Namun, kami memiliki keyakinan dan metode yang sudah dipegang teguh sejak Muhammadiyah berdiri tahun 1912,” tambahnya.
Antusiasme warga terlihat dari penuhnya area Lapangan Sempur. Pihak panitia mengestimasi jumlah jemaah yang hadir mencapai ribuan orang. Tidak hanya warga Muhammadiyah, masyarakat umum yang meyakini jatuhnya Idul Fitri pada hari ini juga turut bergabung dalam saf shalat.
Pesan Idul Fitri: Menjaga Nilai dan Kesiapan Mental
Dalam momentum hari kemenangan ini, Maizar mengajak seluruh umat Islam untuk mensyukuri nikmat setelah sebulan penuh berpuasa. Ia menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai spiritual, moral, dan kepedulian sosial yang telah ditempa selama Ramadan.
Lebih lanjut, ia mengingatkan masyarakat untuk menjadikan nilai-nilai ibadah sebagai perisai dalam menghadapi dinamika kehidupan ke depan, termasuk tantangan global yang sering diprediksi pemerintah.
“Mari kita jaga nilai-nilai Ramadan sebagai perisai menghadapi dinamika kehidupan, termasuk sinyal adanya resesi dunia hingga krisis energi. Insya Allah, dengan spiritualitas yang kuat, kita siap menghadapi situasi apa pun,” tutupnya.
