Jakarta, Denting.id – China secara tegas menyalahkan Amerika Serikat dan Israel atas terganggunya aktivitas pelayaran di Selat Hormuz yang sebagian ditutup oleh Iran.
Menurut Beijing, akar dari krisis tersebut adalah tindakan militer yang dinilai ilegal oleh Washington dan Tel Aviv terhadap Iran.
Selat Hormuz, jalur sempit yang menghubungkan Teluk Persia dengan rute pelayaran global, mengalami penurunan aktivitas signifikan selama hampir satu bulan terakhir. Jalur ini diketahui mengangkut sekitar seperlima pasokan minyak dunia, sehingga gangguan yang terjadi menjadi perhatian serius bagi pasar energi global.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Mao Ning, menegaskan bahwa krisis tersebut dipicu oleh operasi militer yang melanggar hukum.
“Akar penyebab gangguan navigasi melalui Selat Hormuz adalah operasi militer ilegal Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran,” ujar Mao.
Pernyataan tersebut mencerminkan sikap China yang semakin vokal dalam mengkritik peran Amerika Serikat, sekaligus menunjukkan keselarasan posisi Beijing dengan Iran terkait eskalasi konflik terbaru.
Sebelumnya, Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa negara-negara yang bergantung pada pasokan minyak melalui Selat Hormuz harus ikut bertanggung jawab menjaga keamanannya.
“Negara-negara yang menerima minyak melalui jalur tersebut harus menjaga jalur tersebut,” kata Trump tanpa merinci langkah konkret.
Pernyataan itu dinilai sebagai sinyal perubahan pendekatan Washington, yang kini mendorong sekutu dan mitra internasional untuk berperan lebih besar dalam menjaga salah satu jalur maritim paling strategis di dunia.
Perlambatan arus pelayaran di Selat Hormuz mulai membebani rantai pasok global dan memicu kekhawatiran terhadap lonjakan harga energi. Para analis memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan dapat memicu ketidakstabilan ekonomi, terutama bagi negara-negara di Asia dan Eropa yang bergantung pada impor energi.
Di sisi lain, Prancis meningkatkan kesiapsiagaan militernya dengan mengerahkan sejumlah kapal perang, termasuk kelompok tempur kapal induk Charles de Gaulle, ke Laut Mediterania, Laut Merah, dan berpotensi ke Selat Hormuz.
Langkah ini merupakan bagian dari dukungan pertahanan Paris terhadap sekutunya di tengah meningkatnya konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran di kawasan Timur Tengah.
Presiden Prancis Emmanuel Macron bahkan menegaskan solidaritas Eropa saat kunjungannya ke Siprus.
“Ketika Siprus diserang, maka Eropa juga diserang,” ujar Macron usai bertemu Presiden Siprus Nikos Christodoulides dan Perdana Menteri Yunani Kyriakos Mitsotakis.
Sejauh ini, negara-negara Eropa cenderung menjaga jarak dari konflik langsung antara Amerika Serikat dan Israel melawan Iran. Namun, eskalasi yang melibatkan kelompok seperti Hizbullah turut memperluas dampak konflik ke kawasan lain, termasuk Lebanon.
Baca juga: Trump Ancam Amankan Selat Hormuz, Minta Negara-Negara Kirim Kapal Perang Hadapi Iran
Dengan ketegangan yang belum mereda dan solusi diplomatik yang masih belum terlihat, risiko eskalasi lebih luas di kawasan tetap tinggi.

