Jakarta, Denting.id – Ketegangan di kawasan Selat Hormuz kembali memanas setelah Iran dan Amerika Serikat saling melontarkan tudingan terkait pelanggaran gencatan senjata.
Seorang analis politik, Mostafa Khoshcheshm, menyebut bahwa pemberlakuan kembali pembatasan di jalur vital tersebut merupakan konsekuensi langsung dari tindakan Washington. Dalam wawancara dengan Al Jazeera dari Teheran, ia menegaskan bahwa blokade yang dilakukan AS telah melanggar kesepakatan yang sebelumnya mengatur pembukaan jalur pelayaran.
“Selat itu seharusnya dibuka berdasarkan ketentuan gencatan senjata. Blokade AS merupakan pelanggaran,” ujarnya. Ia juga menambahkan bahwa peningkatan kehadiran militer AS di kawasan menjadi pelanggaran lain yang memperburuk situasi.
Menurut Khoshcheshm, upaya terbatas Iran untuk membuka kembali jalur tersebut sempat dilakukan, namun pernyataan Donald Trump di media dinilai tidak akurat dan memicu keputusan Teheran untuk kembali menutup akses di selat tersebut.
Ia juga pesimistis terhadap peluang diplomasi. Khoshcheshm menilai sikap Trump yang kerap berubah-ubah, termasuk dalam berbagai kesepakatan internasional seperti Perjanjian Iklim Paris dan komitmen terhadap NATO, menunjukkan rendahnya konsistensi dalam negosiasi.
Sementara itu, pihak Amerika Serikat bersikeras bahwa Iran telah menyetujui pembukaan kembali Selat Hormuz tanpa syarat, meskipun blokade masih diberlakukan.
Pernyataan tersebut langsung dibantah oleh Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Saeed Khatibzadeh. Ia menegaskan bahwa kesepakatan yang disampaikan Washington tidak sesuai dengan fakta di lapangan. Meski mengakui selat tetap terbuka, ia menyebut setiap kapal harus melalui jalur tertentu dengan koordinasi penuh bersama angkatan bersenjata Iran.
Khatibzadeh juga menekankan bahwa perang bukanlah solusi. Ia menyatakan Iran tetap berkomitmen menyelesaikan konflik melalui jalur diplomasi, namun memperingatkan bahwa jika konflik kembali pecah, respons Iran akan dilakukan dengan kekuatan penuh.
Baca juga: Trump Murka ke New York Times, Tuduh Media Sebarkan “Berita Palsu” soal Perang Iran
Hingga saat ini, perbedaan posisi antara kedua negara terkait pengelolaan Selat Hormuz masih tajam. Meski demikian, negosiasi dilaporkan tetap berlangsung, dengan kedua pihak menyadari bahwa konflik berskala besar akan membawa konsekuensi yang sangat besar bagi stabilitas kawasan maupun global.

