Jakarta, Denting.id – Ketegangan di jalur pelayaran strategis dunia kembali meningkat setelah kelompok Houthi di Yaman mengancam akan menutup Selat Bab al-Mandeb jika Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, terus dianggap menghalangi upaya perdamaian.
Peringatan tersebut disampaikan Wakil Menteri Luar Negeri Houthi di Sanaa, Hussein al-Ezzi, melalui pernyataan di media sosial. Ia menegaskan bahwa jika keputusan penutupan diambil, maka tidak ada pihak yang mampu membukanya kembali.
“Jika Sanaa memutuskan untuk menutup Bab al-Mandeb, maka seluruh umat manusia tidak akan berdaya untuk membukanya,” ujarnya.
Selat Bab al-Mandeb merupakan jalur vital yang menghubungkan Laut Merah dengan Teluk Aden, sekaligus menjadi akses utama menuju Terusan Suez. Jalur ini memiliki lebar sekitar 29 kilometer di titik tersempitnya dan menjadi salah satu rute paling penting bagi distribusi minyak mentah, bahan bakar, serta berbagai komoditas global.
Ancaman ini muncul di tengah eskalasi konflik yang lebih luas, menyusul langkah Iran yang kembali menutup Selat Hormuz sebagai respons atas blokade angkatan laut oleh Amerika Serikat terhadap pelabuhan Iran.
Dalam pernyataan yang dikutip dari Islamic Revolutionary Guard Corps, angkatan laut Iran menegaskan bahwa tidak ada kapal yang diizinkan bergerak menuju Selat Hormuz selama blokade masih berlangsung. Pelanggaran terhadap peringatan tersebut akan dianggap sebagai tindakan mendukung musuh dan berisiko menjadi sasaran militer.
Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menyebut blokade yang dilakukan AS sebagai keputusan “ceroboh dan bodoh”. Ia juga menegaskan bahwa Selat Hormuz berada di bawah kendali penuh Republik Islam Iran.
Sementara itu, reaksi keras datang dari Uni Emirat Arab. Pejabat Kementerian Luar Negeri UEA, Saeed Bin Mubarak Al Hajeri, mengecam penutupan Selat Hormuz sebagai bentuk “terorisme ekonomi” yang harus segera ditangani komunitas internasional.
Ia menekankan bahwa penyelesaian konflik tidak cukup hanya dengan gencatan senjata, tetapi harus mencakup seluruh aspek ancaman yang dituding berasal dari Iran, termasuk program nuklir, rudal balistik, drone, serta kelompok proksi di kawasan.
“Tolok ukur keberhasilan bukan sekadar jeda konflik, tetapi hasil yang konklusif dengan jaminan kuat bahwa agresi tidak akan terulang,” tegasnya.
Baca juga: Trump Puji Israel di Tengah Konflik Timur Tengah, Ketegangan dengan Iran dan NATO Memanas
Dengan ancaman penutupan dua jalur utama dunia, yakni Selat Hormuz dan Bab al-Mandeb, kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi global semakin meningkat. Situasi ini juga memperbesar risiko eskalasi konflik yang dapat berdampak luas terhadap stabilitas ekonomi dan keamanan internasional.

