Jakarta, Denting.id – Dua tentara Israel Defense Forces (IDF) dijatuhi hukuman 30 hari penjara militer setelah terlibat dalam perusakan patung Yesus di wilayah selatan Lebanon. Selain dipenjara, keduanya juga dicopot dari tugas tempur.
Insiden tersebut memicu kemarahan luas, terutama di kalangan komunitas Kristen global, setelah beredar gambar di media sosial yang menunjukkan seorang tentara Israel menghantam kepala patung Yesus yang disalibkan menggunakan palu godam. Patung tersebut diketahui berada di sebuah desa Kristen dekat perbatasan Lebanon-Israel.
Setelah memverifikasi keaslian gambar, IDF langsung meluncurkan penyelidikan internal. Hasilnya, seperti dilaporkan The Guardian, menyimpulkan bahwa tindakan kedua tentara tersebut menyimpang dari perintah serta nilai-nilai yang dijunjung militer Israel.
IDF menyatakan bahwa tentara yang melakukan perusakan maupun yang merekam aksi tersebut sama-sama dikenai sanksi tegas berupa pencopotan dari tugas tempur dan hukuman penjara militer selama 30 hari.
Kelompok hak asasi manusia menilai hukuman semacam ini tergolong jarang dijatuhkan di lingkungan militer Israel. Pada 2025, organisasi pemantau konflik Action on Armed Violence mencatat sekitar 88 persen kasus dugaan pelanggaran di Gaza dan Tepi Barat tidak diselesaikan atau ditutup tanpa tindak lanjut.
Dalam penyelidikan terbaru, terungkap pula bahwa enam tentara lainnya berada di lokasi kejadian namun tidak mengambil tindakan untuk menghentikan maupun melaporkan insiden tersebut.
“Para tentara yang hanya menyaksikan telah dipanggil untuk menjalani klarifikasi. Langkah lanjutan akan ditentukan di tingkat komando,” demikian pernyataan IDF.
Militer Israel juga menegaskan bahwa prosedur terkait penghormatan terhadap institusi dan simbol keagamaan telah disampaikan kepada para prajurit sebelum bertugas, dan akan kembali ditegaskan pasca insiden ini.
Baca juga: Gencatan Senjata Diperpanjang, Militer AS Tetap Siaga Hadapi Iran
Sebagai langkah pemulihan, IDF mengunggah foto penggantian patung Yesus yang telah dirusak. Penggantian tersebut disebut dilakukan oleh pasukan Israel dengan koordinasi penuh bersama komunitas setempat.

