Jakarta, Denting.id – Presiden Donald Trump menegaskan bahwa operasi militer Amerika Serikat (AS) terhadap Iran selama 40 hari tidak dapat dikategorikan sebagai perang.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat penandatanganan perintah eksekutif di Oval Office, Gedung Putih, Kamis waktu setempat. Ia menyebut operasi yang diberi nama “Epic Fury” masih berlangsung, namun lebih tepat disebut sebagai operasi militer terbatas.
“Saya tidak menyebutnya perang. Saya lebih suka operasi militer. Iran sangat ingin membuat kesepakatan,” ujar Trump, seperti dikutip NDTV, Jumat (1/5/2026).
Trump juga mengklaim bahwa tekanan militer dan ekonomi yang dilakukan AS telah melemahkan kemampuan Iran secara signifikan. Ia menyebut angkatan laut dan udara Iran telah “lenyap”, sementara fasilitas produksi drone dan rudal mengalami kerusakan besar.
Selain itu, Trump menyoroti kondisi ekonomi Iran yang disebutnya tengah terpuruk akibat blokade, terutama di sektor ekspor minyak. Menurutnya, kebijakan tersebut menjadi faktor penting dalam mendorong Iran untuk kembali ke meja perundingan.
Dalam pernyataannya, Trump juga melontarkan tuduhan serius terhadap pemerintah Iran terkait pelanggaran hak asasi manusia. Ia mengklaim puluhan ribu warga sipil menjadi korban dalam dua bulan terakhir akibat tindakan keras pemerintah terhadap demonstran.
Trump bahkan mengaku sempat turun tangan secara langsung untuk mencegah eksekusi sejumlah warga Iran. “Saya menelepon dan meminta mereka untuk tidak melakukannya. Dan saya menghargai bahwa mereka tidak melakukannya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Trump kembali menegaskan sikap kerasnya terhadap ambisi nuklir Iran. Ia menyatakan bahwa AS tidak akan membiarkan Teheran memiliki senjata nuklir dalam kondisi apa pun.
Di sisi lain, ketegangan juga meningkat di kawasan Teluk. Ketua Parlemen Iran, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan bahwa negaranya akan tetap menjaga keamanan kawasan dan mengurangi pengaruh AS, termasuk dengan mengontrol Selat Hormuz.
Baca juga: Israel Tembak Warga Palestina, Ratusan Pohon Zaitun Dicabut di Tepi Barat
Pernyataan saling klaim dari kedua pihak ini menunjukkan bahwa meskipun tidak disebut sebagai perang secara resmi, konflik antara AS dan Iran masih menyisakan ketegangan tinggi dan berpotensi memicu eskalasi lanjutan di kawasan.
