Jakarta, Denting.id – Pemerintah China menyatakan langkah Amerika Serikat dan Israel melanjutkan perang melawan Iran tidak membawa manfaat apa pun dan justru memperburuk situasi global.
Pernyataan tersebut disampaikan juru bicara Kementerian Luar Negeri China di tengah momentum pertemuan Presiden China Xi Jinping dengan Presiden AS Donald Trump di Beijing, Jumat.
“Tidak ada gunanya melanjutkan konflik ini, yang seharusnya tidak pernah terjadi sejak awal,” kata juru bicara tersebut saat menjawab pertanyaan mengenai pembahasan Iran dalam pertemuan Trump dan Xi Jinping.
China menegaskan pihaknya mendorong semua pihak yang terlibat untuk segera mencari solusi damai demi menyelesaikan konflik yang dinilai berdampak luas terhadap stabilitas dunia.
Menurut Beijing, penyelesaian konflik bukan hanya menjadi kepentingan Iran dan AS, tetapi juga negara-negara kawasan Timur Tengah serta masyarakat internasional secara keseluruhan.
“Setelah pintu dialog terbuka, pintu itu tidak seharusnya ditutup kembali,” ujarnya.
Pemerintah China juga mendesak agar momentum deeskalasi terus dijaga melalui dialog politik dan konsultasi guna mencapai kesepakatan terkait isu nuklir Iran maupun persoalan lainnya.
Selain itu, Beijing menekankan pentingnya pembukaan kembali jalur pelayaran internasional, termasuk di kawasan Selat Hormuz, demi menjaga stabilitas rantai pasok global dan perdagangan dunia.
“Penting untuk segera mencapai gencatan senjata yang menyeluruh dan berkelanjutan, mengembalikan perdamaian dan stabilitas ke Timur Tengah serta kawasan Teluk secepat mungkin,” kata juru bicara Kemlu China tersebut.
Sementara itu, sehari sebelumnya, Trump dalam wawancara dengan FOX News mengungkapkan bahwa Xi Jinping mendukung tercapainya kesepakatan damai.
“Dia berkata, jika saya bisa membantu, saya ingin membantu. Dia ingin melihat Selat Hormuz tetap terbuka,” ujar Trump.
Baca juga: Perang Iran-AS-Israel Picu Krisis, Raksasa Minyak hingga Bank Global Raup Untung Besar
Lawatan Trump ke China berlangsung di tengah memanasnya konflik Timur Tengah yang pecah setelah pasukan AS dan Israel melancarkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari lalu.

