Jakarta, Denting.id – Uni Eropa (UE) dikabarkan akan segera memangkas proyeksi pertumbuhan ekonominya menyusul dampak serius dari perang Iran yang terus memanas di kawasan Timur Tengah. Konflik tersebut memicu kekhawatiran global terhadap ancaman stagflasi, yakni kondisi ketika pertumbuhan ekonomi melambat namun inflasi tetap tinggi.
Keputusan pemangkasan proyeksi ekonomi itu disampaikan langsung oleh Komisaris Ekonomi Uni Eropa menjelang rilis resmi perkiraan ekonomi musim semi akhir pekan ini. Dalam laporan terbaru tersebut, UE disebut akan menurunkan target pertumbuhan ekonomi sekaligus merevisi naik angka inflasi secara signifikan.
Komisaris Eropa untuk Ekonomi dan Produktivitas, Valdis Dombrovskis, mengungkapkan kondisi ekonomi global kini berada dalam tekanan berat akibat berkepanjangannya konflik di Timur Tengah.
“Kita sedang menghadapi sebuah kejutan stagflasi,” ujar Dombrovskis di sela pertemuan Menteri Keuangan G7 di Paris, Prancis, Senin (19/5/2026).
Kekhawatiran terhadap stagflasi meningkat tajam setelah upaya penyelesaian permanen perang di Timur Tengah belum menemukan titik terang. Situasi semakin rumit setelah jalur pelayaran strategis Selat Hormuz ditutup, sehingga harga minyak mentah dunia terus bertahan di atas US$100 per barel.
Menurut Dombrovskis, kondisi saat ini membuat ruang gerak pemerintah dunia dalam mengambil kebijakan ekonomi menjadi jauh lebih terbatas dibanding saat pandemi Covid-19 beberapa tahun lalu. Negara-negara Eropa dinilai tidak lagi memiliki fleksibilitas fiskal untuk menggelontorkan stimulus besar-besaran.
“Kami pikir penting agar langkah-langkah dukungan yang kami ambil bersifat sementara dan tepat sasaran, bukan langkah-langkah yang justru mempertahankan tingginya permintaan terhadap bahan bakar fosil,” katanya.
Di tengah situasi tersebut, para analis energi global juga memperingatkan bahwa stok minyak mentah dunia kini terus menyusut ke level terendah dalam beberapa tahun terakhir. Cadangan minyak internasional bahkan diprediksi belum dapat pulih hingga Desember 2027.
International Energy Agency (IEA) dalam laporan bulanannya turut memperingatkan bahwa laju penyusutan cadangan minyak global berlangsung dalam kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
“Penyusutan penyangga yang terjadi secara cepat di tengah gangguan yang terus berlanjut dapat menjadi pertanda terjadinya lonjakan harga di masa depan,” tulis IEA dalam laporannya.
Sebagai langkah antisipasi, Uni Eropa kini terus melepaskan cadangan minyak strategis guna menjaga stabilitas pasar energi. Meski demikian, Dombrovskis mengakui risiko kelangkaan pasokan energi di sejumlah sektor tetap menjadi ancaman nyata apabila konflik terus berlanjut.
Baca juga: Perang Iran Uji Diplomasi India, Modi Dihadapkan pada Dilema Geopolitik Timur Tengah
“Semakin lama konflik ini berlangsung, semakin besar risiko terjadinya beberapa hambatan pasokan, yang sekaligus memperkuat pesan kami bahwa respons kebijakan tidak boleh meningkatkan permintaan terhadap bahan bakar fosil,” tutupnya.

