Bogor, Denting.id – Taman Safari Indonesia (TSI) Bogor resmi memperkenalkan bayi panda raksasa bernama Satrio Wiratama atau yang lebih akrab di sapa Rio kepada publik di ruang Istana Panda, Cisarua, Kabupaten Bogor, Selasa (9/6/2026) siang. Mulai hari ini dan seterusnya, bayi panda yang akrab disapa Rio tersebut sudah bisa disaksikan langsung oleh para pengunjung.
Kelahiran Rio pada 27 November 2025 lalu mengukir sejarah baru sebagai panda raksasa pertama yang lahir di Indonesia, sekaligus salah satu dari sedikit yang lahir di luar China dalam beberapa tahun terakhir. Rio merupakan anakan dari pasangan panda raksasa pinjaman China, Cai Tao (jantan) dan Hu Chun (betina), yang sukses dikembangbiakkan lewat program inseminasi buatan.
Vice President Life Science Taman Safari Indonesia, Bongot Huaso Mulia, menjelaskan bahwa kehadiran Rio menjadi pembuktian penting bagi keberhasilan konservasi genetik dari sepasang panda yang telah menghuni Bogor sejak 2017 silam tersebut.
”Tujuan dari pengembangbiakan ini adalah untuk menurunkan keturunan Cai Tao dan Hu Chun, supaya keduanya memiliki genetik representatif dalam bentuk anakan yang baru,” jelas Bongot Huaso Mulia, Selasa (9/6/2026).
Saat perdana menyapa publik, penampilan fisik bayi panda yang nama resminya diberikan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto ini sukses mencuri perhatian. Uniknya, meski corak bulu hitam-putih khas panda sudah mendominasi, tubuh Rio tampak menggemaskan karena diselimuti semburat warna pink (merah muda) yang merata di permukaan kulitnya.
Bongot meluruskan bahwa warna merah muda tersebut bukan merupakan kelainan atau pewarna buatan, melainkan sebuah proteksi biologis alami yang ditransfer langsung dari liur sang induk, Hu Chun, saat merawatnya.
”Warna pink ini alami dari mikroflora normal air liur induk panda. Ini membuktikan bahwa induk panda tidak hanya memproteksi dari segi fisik, tapi saat menjilati anaknya, dia juga melindungi kulit bayi dari bakteri. Seiring Rio makin mandiri dan jarang dijilati, warna pink ini nantinya akan memudar dengan sendirinya,” urai Bongot.
Menginjak usia menuju tujuh bulan, pertumbuhan motorik Rio terpantau berkembang sangat pesat. Struktur otot tubuhnya dinilai kian mengeras berkat simulasi fisik yang kompleks di dalam kandang, sehingga ia sudah sangat aktif bergerak di areanya.
”Bisa dilihat tadi Rio itu ototnya lebih kuat, dia lebih bisa menggunakan empat kakinya, menjaga keseimbangan kepala, serta sudah aktif berguling-guling. Posturnya tambah panjang dan ekornya makin mengecil. Namun untuk urusan makan dia belum, dia masih minum utama dari susu induk dan baru sebatas gigit-gigit rebung saja, belum ada makanan yang ditelan,” jelas Bongot.
Sementara itu, Pendiri TSI, Jansen Manansang, menegaskan bahwa Rio baru diizinkan tampil menyapa masyarakat setelah seluruh indikator medis dan perilakunya dinyatakan memenuhi standar kesehatan serta kesejahteraan satwa yang berlaku internasional.
Proses evaluasi panjang tersebut tidak melulu berfokus pada perkembangan fisik sang bayi panda, melainkan juga memantau secara detail bagaimana jalinan psikologis dan kedekatan alamiah antara Rio dan Hu Chun terbentuk di ruang karantina.
“Kami mengikuti regulasi kesehatan dan kesejahteraan satwa yang sangat ketat. Bukan hanya kesehatan fisik, tetapi juga bagaimana ikatan antara induk dan anak terbangun secara alami tanpa paksaan,” tegas Jansen Manansang.
Momentum bersejarah ini turut dihadiri oleh perwakilan delegasi dari negeri tirai bambu. Atase Kebudayaan Kedutaan Besar China untuk Indonesia, Wang Siping, menyatakan rasa bangga dan apresiasi tertingginya atas komitmen total Indonesia dalam menjaga serta merawat panda raksasa yang merupakan harta nasional Tiongkok.
Wang Siping menyebut panda raksasa bukan sekadar salah satu spesies purba ikonik yang paling dicintai di dunia berdasarkan catatan World Wide Fund for Nature (WWF), melainkan juga memegang peran krusial sebagai duta persahabatan lintas negara.
”Kehadiran panda raksasa tidak hanya menjadi simbol upaya konservasi satwa langka, tetapi juga mencerminkan eratnya hubungan persahabatan antara Indonesia dan China yang terus berkembang dari waktu ke waktu,” tutur Wang Siping.

