Minim Pendaftar, SD di Tulungagung Terancam Kekurangan Murid

Tulungagung, denting.id — Pelaksanaan Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ajaran 2026/2027 di Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur, menyisakan tantangan serius. Sejumlah sekolah dasar (SD) mengalami krisis pendaftar, bahkan terdapat sekolah yang hingga saat ini belum menerima satu pun murid baru.

Kasi Kelembagaan Bidang SD Dinas Pendidikan Kabupaten Tulungagung, Rifka Zuyun Umadah, mengungkapkan data mengejutkan pada Senin (13/7/2026). Dari 634 lembaga SD yang mengikuti SPMB, terdapat tiga sekolah yang tercatat belum mendapatkan siswa baru sama sekali.

“Ketiga sekolah tersebut adalah SD swasta Dlodo di Kecamatan Kalidawir, SDN 4 Besuki, serta SDN 5 Bungur di Kecamatan Karangrejo,” ujar Rifka saat dikonfirmasi di Tulungagung.

Selain ketiga sekolah tersebut, fenomena kekurangan siswa juga melanda sejumlah sekolah lainnya. SDN Sembon hanya memperoleh satu siswa baru, sementara SDN 2 Plandaan di Kecamatan Kedungwaru dan SDN Pucung masing-masing hanya mendapatkan dua peserta didik baru.

Rifka menambahkan bahwa angka tersebut masih bersifat sementara. Pihak Dinas Pendidikan saat ini masih melakukan proses rekapitulasi data secara menyeluruh. “Hasil rekapitulasi sekolah yang minim pendaftar kemungkinan selesai pada Selasa (14/7),” tambahnya.

Kondisi memprihatinkan dialami oleh SDN 2 Plandaan. Sekolah ini hanya mendapatkan dua siswa baru meski pihak sekolah telah melakukan berbagai upaya jemput bola sejak beberapa bulan lalu. Kepala SDN 2 Plandaan, Siti Komariah, mengakui bahwa pihaknya telah berupaya mendatangi taman kanak-kanak hingga rumah warga di Desa Plandaan.

Baca juga: Masuk 3 Perkara Besar, Eks Jampidsus Febrie Adriansyah Dicekal ke Luar Negeri

Siti menduga, salah satu penyebab minimnya pendaftar adalah munculnya anggapan keliru di masyarakat bahwa SDN 2 Plandaan sudah tidak beroperasi. Padahal, kegiatan belajar mengajar di sekolah tersebut masih aktif berjalan.

Saat ini, total siswa di SDN 2 Plandaan dari kelas I hingga VI hanya berjumlah 16 orang. Meski dengan jumlah murid yang terbatas, Siti memastikan proses pembelajaran tetap berjalan. “Kami tetap memberikan pendampingan agar siswa merasa nyaman mengikuti proses pembelajaran,” ujarnya.

Pada hari pertama masuk sekolah yang bertepatan dengan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS), para siswa mengikuti kegiatan dengan suasana sederhana namun tetap penuh antusias. Sekolah-sekolah seperti SDN 2 Plandaan kini menjadi potret perjuangan lembaga pendidikan dasar di Tulungagung yang tetap bertahan memberikan layanan di tengah keterbatasan jumlah peserta didik.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai