Cara PHRI Bogor Dongkrak Okupansi Hotel di Tengah Menurunnya Daya Beli

Bogor, Denting.id – Fenomena menurunnya daya beli masyarakat turut berimbas pada sektor pariwisata dan perhotelan di Kota Bogor. Meski berada di momen libur panjang sekolah, tingkat keterisian kamar (okupansi) hotel tahun ini tercatat belum mampu menyamai rekor pencapaian pada dua hingga tiga tahun silam.

​Menyikapi tantangan ekonomi tersebut, Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Kota Bogor memutar otak dan menyiapkan sejumlah siasat strategis. Tujuannya adalah untuk tetap menarik minat wisatawan agar roda bisnis 68 hotel yang bernaung di bawah PHRI tetap berputar maksimal.

​Ketua PHRI Kota Bogor, Yuno Abeta Lahay, menegaskan bahwa penyesuaian tarif sewa kamar menjadi salah satu fokus utama para pengusaha hotel saat ini.
​”Kami sangat memperhatikan masalah harga. Jangan sampai harga yang ditawarkan justru memberatkan konsumen, sehingga membuat daya beli mereka yang sudah rendah menjadi semakin susah. Jadi, faktor harga ini terus kami pantau ketat,” ungkap Yuno.

​Selain menahan agar harga tetap terjangkau, PHRI juga menggencarkan kolaborasi lintas sektor. Pihaknya merajut kerja sama dengan pelaku usaha kuliner dan pengelola destinasi wisata untuk menawarkan paket liburan yang lebih ekonomis dan menarik.

​”Tentunya kita tetap gencar melakukan promosi. Kami bekerja sama dengan pelaku usaha lain, baik itu restoran maupun pengelola destinasi wisata, untuk membuat paket-paket wisata terpadu,” terangnya.

​Siasat yang diterapkan pengusaha hotel ini cukup membantu mempertahankan iklim bisnis di tengah persaingan yang kian ketat, terutama dengan maraknya penginapan non-hotel berbasis aplikasi online.

​Yuno memaparkan, secara rata-rata, tingkat keterisian kamar hotel di Kota Bogor pada masa libur sekolah kemarin berada di angka 57 persen.

​”Alhamdulillah, ada sedikit peningkatan okupansi jika dibandingkan dengan masa non-libur sekolah, kurang lebih sekitar 25 persen sampai 27 persen. Jadi, jika satu hotel memiliki 100 kamar, berarti separuh lebih kamarnya terisi,” papar Yuno.

​Lebih lanjut, Yuno menjelaskan bahwa wisatawan yang datang ke Bogor memiliki kecenderungan pola liburan yang spesifik. Mayoritas wisatawan menjadikan hotel-hotel dan restoran di Kota Bogor sebagai sentra menginap dan kuliner.

Sementara untuk aktivitas rekreasi alam, mereka lebih memilih bergeser ke wilayah Kabupaten Bogor, meski Kebun Raya Bogor di pusat kota tetap menjadi magnet utama.

​Ke depannya, untuk menjaga ekosistem pariwisata yang ramah pengunjung, PHRI Kota Bogor menaruh harapan besar pada intervensi pemerintah daerah.

​”Yang pasti kami mengharapkan dukungan dari pemerintah. Dukungan tersebut bisa berupa menjaga kelancaran lalu lintas, ketertiban, serta kenyamanan bagi para tamu yang berkunjung. Hal-hal itulah yang perlu dioptimalkan,” pungkasnya.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai