Bandung, Denting.id – Tekanan ekonomi, meningkatnya biaya hidup, hingga semakin terbatasnya lapangan kerja membuat masyarakat Jawa Barat membutuhkan wakil rakyat yang tidak hanya pandai menyampaikan janji, tetapi juga hadir dan bekerja untuk memberikan solusi nyata.
Hal tersebut disampaikan Wakil Ketua DPRD Provinsi Jawa Barat, Iwan Suryawan, yang akrab disapa Abah Iwan, dalam pembukaan Bimbingan Teknis Anggota Legislatif PKS se-Jawa Barat yang digelar pada 2–4 Agustus 2026.
“Masyarakat menghadapi tekanan ekonomi dan kebutuhan hidup yang semakin kompleks. Dalam situasi seperti ini, masyarakat tidak cukup hanya membutuhkan politisi yang pandai berbicara, melainkan wakil rakyat yang hadir, bekerja, dan mampu menghadirkan solusi,” kata Abah Iwan dalam keterangan tertulis yang diterima Denting.id, Kamis (6/8/2026).
Abah Iwan menegaskan, kursi parlemen merupakan amanah besar yang harus dipertanggungjawabkan, bukan fasilitas untuk memperkaya diri maupun mengejar popularitas.
“Bayangkan ratusan ribu pemilih yang memberikan suaranya kini berdiri menagih janji secara bersamaan, meminta pertanggungjawaban atas setiap kebijakan yang kita buat. Bobot itu saja sudah sangat menekan, dan kelak seluruh amanah ini akan dituntut pertanggungjawabannya dalam lapisan yang jauh lebih berat di hadapan Allah SWT,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa kepemimpinan harus berdiri di atas prinsip sayyidul qaumi khadimuhum, yakni pemimpin suatu kaum adalah pelayan bagi mereka.
“Seorang wakil rakyat harus berada di tengah-tengah masyarakat, hadir menemani warga di tengah kondisi yang mereka rasa berat, bukan justru menghilang dan membuat jarak setelah bilik suara ditutup,” tegas Abah Iwan yang juga menjabat Ketua DPW PKS Jawa Barat.
Menurutnya, komitmen kehadiran wakil rakyat juga harus diwujudkan melalui penguatan sinergi dan efektivitas anggaran daerah. Seluruh jaringan, akses, serta pengetahuan yang dimiliki anggota dewan harus diarahkan untuk memperluas pelayanan publik.
“Di tengah terbatasnya ruang fiskal pemerintah, pengawasan anggaran harus dipastikan tepat sasaran agar setiap rupiah uang rakyat memberikan dampak langsung pada penyelesaian masalah warga. Sikap kritis terhadap kebijakan pemerintah pun harus selalu dibentengi oleh data yang akurat dan tawaran jalan keluar yang konstruktif,” katanya.
Selain itu, Abah Iwan menekankan pentingnya integritas moral dan spiritual sebagai benteng utama dalam menghadapi godaan kekuasaan. Menurutnya, nilai moral menjadi pembeda yang tidak dapat ditawar agar kewenangan politik tidak berubah menjadi sumber penyimpangan.
Ia mengakui padatnya agenda kedewanan, mulai dari rapat hingga kunjungan kerja, berpotensi memengaruhi konsistensi ibadah personal anggota dewan. Karena itu, ia meminta seluruh anggota legislatif PKS menjaga konsistensi pembinaan internal melalui Unit Pembinaan Anggota (UPA).
“Hal yang lumrah bila kepadatan agenda kedewanan, mulai dari rapat hingga kunjungan kerja, memengaruhi nilai-nilai ibadah personal anggota dewan. Untuk itu, setiap anggota dewan PKS harus menjaga konsistensi kehadiran UPA-nya. Dengan begitu, semoga anggota dewan kita bisa terhindar dari penyimpangan yang merugikan masyarakat,” tegasnya.
Konsolidasi tersebut menjadi bagian dari upaya memastikan kerja politik di daerah berorientasi pada keberlanjutan pelayanan jangka panjang, bukan sekadar respons sesaat terhadap persoalan masyarakat.
Kegiatan bertajuk “Kuatkan Sinergi, Hadirkan Solusi” itu diikuti ratusan wakil rakyat dari tingkat DPR RI, DPRD Provinsi, hingga DPRD Kabupaten dan Kota.
Acara tersebut turut dihadiri Sekretaris Jenderal PKS H. Muhammad Kholid, Ketua Bidang Pelatihan dan Pengembangan Kepemimpinan Partai Dr. Muhammad Iqbal, serta Sekretaris Fraksi PKS DPR RI Hj. Ledia Hanifa Amaliah.
Baca juga: Iwan Suryawan Minta Edukasi Program Pendidikan Lebih Terintegrasi
Melalui kegiatan ini, para anggota legislatif PKS menyelaraskan arah pelayanan dan memperkuat sinergi dalam menghadapi berbagai persoalan krusial di daerah, mulai dari pendidikan, kesehatan, daya beli masyarakat, hingga kualitas pelayanan publik.Kalau ingin, judulnya juga bisa dibuat lebih tajam dan bernuansa politik, misalnya: “Iwan Suryawan: Jangan Hilang Setelah Bilik Suara Ditutup”.

