Bogor, Denting.id — Abu vulkanik tidak selalu membawa dampak buruk bagi lahan pertanian. Menurut pakar Ilmu Tanah IPB University Prof Iskandar, material vulkanik dapat menyumbang sejumlah unsur hara bagi tanah, tetapi paparan dalam jumlah besar atau waktu yang lama dapat mengganggu tanaman.
Prof Iskandar menjelaskan bahwa lama paparan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan tingkat kerusakan. Semakin lama abu menutupi tanaman, semakin besar pula risiko gangguan terhadap pertumbuhan dan produksi.
Abu Tutupi Daun, Fotosintesis Terganggu
Tanaman menghadapi risiko serius ketika abu vulkanik menutup permukaan daun dan batang. Lapisan abu dapat menghalangi stomata sehingga tanaman kesulitan menjalankan fotosintesis secara normal.
Kondisi tersebut kemudian dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Jika paparan berlangsung terlalu lama, tanaman bahkan dapat mengalami kegagalan pembungaan hingga gagal panen.
Selain durasi paparan, jarak dari pusat letusan juga memengaruhi tingkat kerusakan. Wilayah yang lebih dekat dengan pusat letusan dapat menerima material dengan suhu tinggi sehingga tanaman menghadapi risiko kerusakan fisik.
Semakin Dekat Gunung Api, Risiko Makin Besar
Menurut Prof Iskandar, material vulkanik di sekitar pusat letusan memiliki karakter berbeda dari abu yang jatuh di wilayah lebih jauh. Material di dekat pusat letusan dapat berupa pasir, kerikil, hingga bongkahan batu.
Sementara itu, wilayah yang lebih jauh umumnya menerima butiran abu yang lebih halus dan ringan. Hujan kemudian dapat membawa lapisan abu tipis melalui aliran air sehingga material tersebut lebih mudah berpindah dari permukaan lahan.
Karena itu, petani perlu memperhatikan ketebalan abu dan kondisi tanaman setelah erupsi. Pemantauan tersebut dapat membantu menentukan langkah pemulihan yang sesuai.
Jangan Langsung Buang Abu dari Lahan
Prof Iskandar menyarankan petani segera mengolah lahan setelah hujan abu berhenti dan kondisi memungkinkan untuk kembali beraktivitas. Petani juga perlu melihat ketebalan lapisan abu sebelum menentukan tindakan.
Jika lapisan abu cukup tipis, petani dapat mengolah lahan seperti biasa. Namun, ketika abu menumpuk tebal, pengolahan tanah membutuhkan tenaga dan perhatian lebih besar.
Menariknya, petani tidak harus langsung membuang abu vulkanik dari lahan. Mereka dapat mencampurkan material tersebut dengan tanah, kemudian memeriksa kondisi tanah melalui pengukuran pH dan daya hantar listrik (DHL).
Abu Vulkanik Juga Membawa Unsur Hara
Di balik risikonya, abu vulkanik juga memiliki potensi untuk membantu pemulihan tanah. Prof Iskandar menjelaskan bahwa air hujan dapat melarutkan sejumlah unsur dari abu dan membuatnya tersedia bagi tanaman.
Material tersebut dapat menyumbang unsur seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan kalium (K). Unsur-unsur tersebut memiliki peran penting dalam mendukung kesuburan tanah dan kebutuhan hara tanaman.
Karena itu, petani perlu melihat kondisi lahan secara menyeluruh. Abu tipis tidak selalu menjadi masalah besar, sedangkan lapisan tebal dan paparan berkepanjangan membutuhkan penanganan lebih serius.
Petani Perlu Perhatikan Kondisi Tanah
Setelah hujan abu berakhir, petani perlu mengevaluasi kondisi lahan sebelum kembali menanam. Pemeriksaan pH dan daya hantar listrik dapat membantu memberikan gambaran mengenai kondisi tanah setelah terkena material vulkanik.
Selain itu, petani perlu memperhatikan kondisi daun, batang, dan pertumbuhan tanaman. Langkah tersebut penting untuk menentukan apakah tanaman masih dapat melanjutkan pertumbuhan atau membutuhkan tindakan pemulihan.
Pada akhirnya, dampak abu vulkanik terhadap pertanian tidak selalu sama. Durasi paparan, ketebalan abu, jarak dari pusat letusan, curah hujan, serta kondisi tanah menjadi faktor yang perlu petani perhatikan.
Abu Vulkanik Bukan Sekadar Bencana bagi Pertanian
Abu vulkanik memang dapat mengganggu produksi pertanian ketika menutup tanaman dalam waktu lama. Namun, material yang sama juga dapat membawa unsur hara dan membantu memperbaiki tanah setelah kondisi lahan kembali stabil.
Karena itu, petani tidak perlu terburu-buru membuang seluruh abu dari lahan. Pemeriksaan kondisi tanah dan tanaman dapat membantu menentukan langkah yang paling tepat setelah erupsi.
Baca juga: Pakar IPB University Urai Dampak Abu Vulkanik terhadap Tanaman dan Lahan Pertanian

