BANDUNG, Denting.id — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi angkat bicara soal meme yang membandingkan sikapnya saat melihat kerusakan lingkungan di Bogor dengan keterlibatannya dalam polemik pembangunan pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI) di Jatiluhur, Kabupaten Purwakarta. Dedi menegaskan, kedua peristiwa tersebut memiliki konteks berbeda.
Meme itu ramai di media sosial setelah Dedi terlihat emosional ketika meninjau kondisi lingkungan di Bogor. Dalam video dan foto yang beredar, Dedi tampak menangis dan bersandar di pagar saat melihat kondisi lingkungan yang mengalami kerusakan.
Momen tersebut kemudian dibandingkan dengan kehadiran Dedi di lokasi proyek pusat data AI milik BDx Data Centers di Jatiluhur.
Namun, Dedi membantah anggapan bahwa dirinya datang untuk meresmikan proyek tersebut. Ia menjelaskan, kehadirannya di lokasi pada 28 Juli 2026 merupakan inisiatif pribadi untuk mengecek langsung kondisi pembangunan sekaligus memastikan persoalan administrasi dan perizinan investasi berjalan sesuai ketentuan.
Sebelum datang ke lokasi, Dedi mengaku sempat menerima rombongan pengusaha yang akan membangun data center tersebut di Gedung Sate. Setelah itu, ia memutuskan datang sendiri ke lokasi untuk melihat kondisi proyek secara langsung.
Dalam kunjungan tersebut, Dedi mengaku menanyakan sejumlah dokumen perizinan, termasuk Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG). Saat itu, kedua dokumen tersebut disebut belum terbit.
Dedi juga menegaskan bahwa kunjungannya bukan bagian dari agenda seremonial perusahaan. Ia menyebut tidak ada surat permohonan peresmian dari perusahaan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Barat.
“Saya datang sendiri untuk mengecek lapangan,” kata Dedi dalam keterangannya, Jumat (2/10/2026).
Keterlibatan Dedi dalam proyek tersebut kemudian berlanjut pada pengawasan pemerintah terhadap aspek perizinan dan dampak lingkungan. Pada 30 September 2026, Dedi justru meminta pembangunan proyek dihentikan sementara karena AMDAL dan PBG belum rampung.
Selain persoalan perizinan, Dedi juga meminta kajian terkait kebutuhan air data center dibuka dan memastikan penggunaannya tidak mengganggu kepentingan masyarakat, khususnya petani di sekitar Jatiluhur.
Karena itu, konteks kehadiran Dedi di Jatiluhur berbeda dengan gambaran yang muncul dalam meme. Ia menyatakan dirinya tidak berada di sana sebagai pihak yang meresmikan proyek, melainkan sebagai gubernur yang melakukan pengecekan terhadap investasi dan aspek perizinannya.
Sementara di Bogor, respons emosional Dedi muncul setelah melihat langsung kondisi lingkungan yang mengalami kerusakan.
Perbandingan dua peristiwa tersebut kemudian menjadi perbincangan di media sosial. Dedi menilai masing-masing kejadian perlu dilihat berdasarkan persoalan dan konteksnya secara utuh, bukan hanya dari potongan gambar atau video yang kemudian menjadi bahan meme.
Editor : Linna Susanti

