SEAMEO BIOTROP Pacu Produktivitas Sayuran Tanpa Musim Lewat Teknologi Hidroponik Berbasis IoT

Bogor, Denting.id – SEAMEO BIOTROP, pusat regional di bawah Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, resmi melakukan panen raya pakcoy menggunakan sistem hidroponik berbasis Internet of Things (IoT) sebagai wujud nyata penguatan ketahanan pangan nasional di Bogor, Kamis (7/5/2026).

Inovasi yang dikembangkan melalui konsep teaching factory ini memanfaatkan metode Nutrient Film Technique (NFT) yang didukung sensor suhu, kelembaban, serta nutrisi secara real-time untuk menjamin pertumbuhan tanaman yang seragam dan berkualitas tinggi.

​Direktur SEAMEO BIOTROP, Edi Santosa, menjelaskan bahwa fasilitas ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana produksi, tetapi juga sebagai laboratorium hidup bagi siswa, mahasiswa, hingga peneliti internasional.

Menurutnya, integrasi teknologi digital dalam pertanian menjadi solusi krusial bagi generasi muda dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan kebutuhan pangan masa depan yang semakin kompleks.

​”Selain ikan melalui sistem bioflok, kami juga mengembangkan hidroponik untuk tanaman sayuran dengan prinsip teknologi yang mirip, di mana nutrisi dan media airnya diatur. Dengan cara ini, sayuran seperti sawi atau selada bisa panen maksimal dalam 30 hari, bahkan kangkung hanya butuh 15 sampai 20 hari,” ujar Edi Santosa.

​Optimalisasi Pertanian Perkotaan dan Standar Global

​Selain kecepatan panen, teknologi hidroponik ini memungkinkan masyarakat untuk bertani tanpa bergantung pada musim melalui optimalisasi lahan yang terbatas.

Pemanfaatan atap gedung atau rooftop gardening menjadi fokus pengembangan guna meniru keberhasilan negara-negara maju yang telah menargetkan kemandirian pangan melalui rekayasa teknologi cahaya LED dan pengaturan CO2.

​Edi Santosa menekankan bahwa kunci utama untuk meningkatkan produktivitas pertanian nasional adalah dengan menerapkan pengendalian lingkungan yang ketat atau closed system. Hal ini merujuk pada perbandingan signifikan hasil panen dengan negara luar yang telah menerapkan teknologi serupa secara lebih masif dan terukur.

​”Di Belanda, tanaman tomat yang menggunakan hidroponik canggih bisa bertahan hingga satu tahun dengan produktivitas mencapai 128 kilogram per pohon, sementara di Indonesia rata-rata hanya 10 kilogram karena faktor lingkungan dan serangan virus. Di BIOTROP, kita terus mengadopsi teknologi global tersebut lalu menyesuaikannya agar bisa diterapkan masyarakat, lengkap dengan panduan nutrisi dan pakan agar mudah diadopsi,” jelasnya.

Selain fokus pada produksi, fasilitas ini dioptimalkan sebagai teaching factory yang mengintegrasikan praktik lapangan langsung dengan teknologi modern bagi para pelajar dan peneliti.

Ia menegaskan bahwa pendekatan ini bertujuan untuk mendorong generasi muda agar lebih adaptif terhadap teknologi pertanian serta mendukung program pemerintah dalam memperkuat pendidikan vokasi agar lulusannya siap menghadapi tantangan global

“SEAMEO BIOTROP akan terus mengembangkan model pembelajaran berbasis teknologi ini sebagai bagian dari kontribusi dalam mendorong pertanian berkelanjutan di Indonesia, ” pungkasnya.

Bagikan Artikel:

Mungkin Anda Menyukai