Bandung, Denting.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Geofisika Bandung mengeluarkan peringatan dini terkait fluktuasi cuaca ekstrem di wilayah Jawa Barat. Wilayah pesisir selatan Jabar, termasuk Pangandaran dan Sukabumi, mendapat atensi khusus akibat potensi gelombang tinggi.
Kondisi atmosfer di samudra bagian selatan menunjukkan adanya tekanan udara rendah yang memicu peningkatan kecepatan angin secara signifikan. Fenomena alam ini berdampak langsung pada kenaikan tinggi gelombang laut yang membahayakan aktivitas pelayaran.
Selain fluktuasi cuaca laut, BMKG juga mencatatkan aktivitas kegempaan tektonik darat berskala minor di beberapa wilayah patahan lokal. Rentetan gempa kecil tersebut memerlukan pemantauan intensif guna mendeteksi potensi pergerakan tanah yang lebih masif.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Barat langsung merespons peringatan dini ini dengan menyiagakan posko darurat di titik rawan. Petugas memeriksa kembali kesiapan alat evakuasi dan sistem peringatan dini tsunami di sepanjang pantai.
“Kami meminta masyarakat, terutama nelayan dan wisatawan di pesisir selatan Jabar, untuk menunda aktivitas di laut pada Jumat, 10 Juli 2026 ini jika cuaca memburuk. Fluktuasi tinggi gelombang bisa berubah sewaktu-waktu akibat kecepatan angin yang meningkat,” ujar Kepala Stasiun Geofisika BMKG Bandung, Teguh Rahayu, Jumat (10/7/2026).
Teguh Rahayu mengimbau pengelola tempat wisata pantai untuk memasang bendera larangan berenang di area zona berbahaya. Kerja sama dari para wisatawan sangat diperlukan untuk mencegah terjadinya kecelakaan laut akibat terseret ombak besar.
Baca juga: Pemprov Jabar Perketat Pengawasan ASN Terindikasi Judi Online
Dinas Kelautan dan Perikanan Jabar juga meminta para nelayan tradisional untuk memantau pembaruan informasi cuaca harian sebelum melaut. Pemerintah menyediakan aplikasi digital khusus yang bisa diakses nelayan untuk melihat peta sebaran gelombang tinggi.
Di kawasan perbukitan selatan, potensi hujan lebat dengan durasi singkat juga meningkatkan risiko terjadinya bencana tanah longsor. Retakan tanah di lereng-lereng gunung menjadi indikator utama yang harus diwaspadai warga saat hujan turun.
Pemerintah daerah mengoptimalkan peran relawan tangguh bencana (Destana) di tingkat desa untuk melakukan ronda malam secara bergantian. Kehadiran relawan ini sangat krusial dalam mempercepat proses evakuasi mandiri warga saat kondisi darurat terjadi.
BMKG berkomitmen untuk terus memperbarui data pemantauan cuaca setiap tiga jam melalui kanal informasi resmi. Warga diminta tidak mudah memercayai kabar bohong (hoaks) terkait potensi gempa besar yang sering beredar di media sosial.

