Jakarta, Denting.id – Milisi Houthi diduga melancarkan serangan terhadap Arab Saudi dari wilayah Irak melalui koordinasi dengan kelompok-kelompok bersenjata setempat. Dugaan tersebut disampaikan berdasarkan analisis yang dilakukan otoritas Saudi bersama mitra regionalnya.
Menurut laporan tersebut, Houthi disebut bekerja sama dengan sejumlah milisi di Irak, bahkan beberapa serangan diklaim dilakukan secara gabungan. Saudi juga menuduh operasi itu berada di bawah pengawasan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).
Meski demikian, hingga kini belum ada pernyataan resmi dari Houthi, kelompok bersenjata Irak, maupun IRGC terkait tuduhan keterlibatan dalam serangan tersebut.
Hubungan Houthi dengan kelompok bersenjata di Irak sebenarnya telah terjalin sejak lama, terutama dengan Kataib Hizbullah yang dikenal sebagai salah satu faksi bersenjata paling kuat dan terorganisir di negara itu.
Pada 2024, pemimpin Houthi Abdul Malik al-Houthi mengumumkan pembentukan ruang operasi gabungan dengan sejumlah faksi Irak. Di tahun yang sama, Houthi dan Kataib Hizbullah juga mengklaim melakukan operasi bersama pertama yang menargetkan Israel.
Houthi diketahui memiliki kantor perwakilan resmi di Irak yang dipimpin Ahmed al-Sharafi. Perwakilan tersebut disebut aktif menjalin komunikasi dengan partai-partai Syiah yang bersekutu dengan Iran serta berbagai kelompok bersenjata di Irak.
Jika benar dilakukan secara bersama, serangan itu dinilai menunjukkan semakin eratnya koordinasi di dalam Poros Perlawanan yang didukung Iran, sekaligus memperlihatkan kemampuan jaringan tersebut dalam mengancam kepentingan sekutu Amerika Serikat di Timur Tengah.
Irak juga dinilai semakin berperan sebagai penghubung utama dalam Poros Perlawanan setelah melemahnya Hizbullah di Lebanon dan tergulingnya pemerintahan Bashar al-Assad di Suriah.
Di sisi lain, Irak menjadi sorotan setelah menjadi sasaran serangan besar-besaran oleh Arab Saudi dan Amerika Serikat pada Rabu pekan ini. Laporan menyebut sedikitnya tujuh provinsi digempur, mengakibatkan sekitar 20 orang tewas.
Baca juga: Trump Klaim Kesepakatan Akhiri Perang dengan Iran Bisa Tercapai dalam Dua Hari
Pemerintah Irak mengecam operasi tersebut dan menyebutnya sebagai pelanggaran terhadap hukum internasional serta Piagam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Sementara itu, Arab Saudi menyatakan operasi gabungan yang dilakukannya merupakan respons atas serangan yang sebelumnya diluncurkan dari wilayah Irak. Riyadh juga menegaskan akan mengambil langkah lebih tegas apabila serangan serupa kembali terjadi.
Ketegangan antara Arab Saudi dan Houthi sendiri terus meningkat dalam beberapa waktu terakhir. Selain saling melancarkan serangan, Houthi juga mengklaim memblokade jalur maritim Saudi di Laut Merah serta mengancam menutup Selat Bab al-Mandab, di tengah memanasnya kembali konflik antara Amerika Serikat dan Iran.

