Bogor, Denting.id – Pernyataan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, dalam Sidang di Gedung DPR RI yang menyebut Susannah sebagai buruh pengupas bawang mendadak menuai sorotan luas publik.
Alih-alih pengupas bawang, pihak keluarga di Kabupaten Bogor justru mengklarifikasi fakta sebenarnya terkait profesi harian Susannah, warga Kampung Ciuncal, Desa Situsari, Kecamatan Cileungsi, yang kesehariannya harus banting tulang sebagai buruh jahit majun dan petugas dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) demi menyambung hidup.
Momen terseretnya nama Susannah bermula ketika ia diundang dan disapa langsung oleh Kepala Negara sebagai representasi rakyat kecil yang gigih berjuang. Kendati disambut rasa bangga, penyebutan profesi di panggung parlemen tersebut sempat membuat keluarga serta para tetangga di kampung halamannya terkejut lantaran tidak sesuai dengan realitas pekerjaan aslinya di lapangan.
Pihak keluarga langsung memberikan klarifikasi tegas bahwa Susannah sama sekali bukan buruh pengupas bawang seperti yang diucapkan dalam pidato di gedung dewan. Kakak kandungnya, Yuliana, mengungkapkan kebingungannya saat menyaksikan tayangan televisi kala itu. Menurutnya, adiknya sehari-hari menggantungkan hidup dengan memborong pekerjaan menjahit kain lap majun serta aktif bertugas di dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG).
“Itu tidak benar. Tidak, sangat tidak benar. Makanya saya bingung kenapa pas di TV itu pengucapannya Bapak Presiden itu pengupas bawang. Saya bingung. Keluarga juga bingung, tetangga juga bingung. Padahal kan sebelum itu diliput kegiatan dia sebelum diundang ke sana,” ungkap Yuliana saat ditemui.
Kediaman Susannah di Kampung Ciuncal berada di lokasi yang cukup terpencil. Akses menuju rumah berjarak sekitar 200 meter dari jalan raya Klapanunggal atau Ciuncal dan hanya dapat diakses dengan berjalan kaki atau menggunakan sepeda motor.
Di rumah peninggalan orang tua yang berdinding kombinasi triplek dan tembok sederhana itulah Susannah bersama keluarga—mulai dari kakak, mertua, hingga para tetangga bahu-membahu menyusun potongan kain dan menjahit lap majun.
Dari pekerjaan borongan tersebut, ia rata-rata mengantongi upah harian sekitar Rp14.000. Selepas merapikan kain di pagi hari, ia langsung melanjutkan aktivitas bekerja di dapur MBG hingga sore atau malam hari demi membantu perekonomian keluarga bersama sang suami yang bekerja sebagai kuli bangunan.
Di mata keluarga dan masyarakat sekitar, Susannah dikenal sebagai sosok wanita tangguh dan pekerja keras sejak usia muda. Meski harus melakoni berbagai pekerjaan berat demi membesarkan ketiga anaknya di mana anak sulungnya telah lulus SMA, anak kedua duduk di kelas 3 SMP, dan si bungsu berada di kelas 5 SD ia tidak pernah menunjukkan keluhan.
“Kalau dikeluhin sih enggak. Dia mah enjoy aja orangnya. Memang dia mah orangnya dari dulu, dari zaman dia perawan itu memang orangnya mandiri… Enjoy orangnya, sopan, ibadahnya rajin. Saya salut sama dia, pendidikan ngedidik anaknya juga saya salut,” tutur Yuliana memungkasi.

