Sanlat Denting, Kabar Ilmu – Peradaban memiliki jalan yang harus ditempuh dengan perjuangan. Kemajuan yang sejati tidak lahir dari jalan pintas, melainkan dari keberanian menghadapi tantangan, menegakkan kebenaran, mengendalikan hawa nafsu, dan membangun kehidupan bersama di atas keadilan serta kasih sayang. Dalam perspektif Al-Qur’an, jalan terjal menuju kemuliaan itu disebut al-‘Aqabah.
فَلَا اقْتَحَمَ الْعَقَبَةَ وَمَا أَدْرَاكَ مَا الْعَقَبَةُ
“Tetapi dia tidak menempuh jalan yang mendaki lagi sukar. Tahukah engkau apakah jalan yang mendaki itu?” (Surah Al-Balad ayat 11–12).
Al-Qur’an menggambarkan jalan menuju kemuliaan sebagai al-‘Aqabah, yaitu pendakian yang terjal dan penuh ujian. Allah tidak menggambarkannya sebagai gunung yang harus didaki oleh kaki, melainkan sebagai tanjakan yang harus dilalui oleh hati, akal, dan karakter manusia.
Kata iqtaḥama mengandung makna menerobos dengan keberanian. Dalam kehidupan bermasyarakat dan bernegara, al-‘Aqabah berarti keberanian mempertahankan kebenaran ketika kebatilan tampak lebih mudah dan menguntungkan.
Tantangan tersebut semakin nyata pada abad ke-21. Kemajuan teknologi, kecerdasan buatan, media sosial, ekonomi digital, dan berbagai inovasi membuka peluang besar bagi kemaslahatan, tetapi juga dapat menjadi sarana manipulasi, eksploitasi, dan ketimpangan apabila tidak dipandu moral.
Di tingkat nasional, al-‘Aqabah hadir dalam bentuk korupsi, penyalahgunaan amanah, politik uang, manipulasi informasi, budaya instan, dan kecenderungan mengukur keberhasilan hanya dengan materi. Jalan tersebut tampak mudah, tetapi dalam jangka panjang merusak kepercayaan sosial dan sendi-sendi peradaban.
Namun, tantangan terbesar manusia sering kali justru berasal dari dirinya sendiri: keserakahan, kesombongan, cinta dunia yang berlebihan, kemalasan, iri hati, dan keengganan menerima kebenaran. Karena itu, tidak mungkin sebuah bangsa menjadi bersih apabila individu-individunya enggan membersihkan diri.
Al-‘Aqabah dengan demikian bukan sekadar konsep spiritual, tetapi juga paradigma pembangunan. Kemajuan tidak cukup diukur dari pertumbuhan ekonomi, kecanggihan teknologi, atau kekuatan material. Kemajuan sejati terjadi ketika ilmu dipandu hikmah, kekuasaan dijalankan dengan amanah, kekayaan disertai kepedulian, dan seluruh aktivitas manusia diarahkan untuk memakmurkan bumi tanpa merusaknya.
Makna Naqli Al-‘Aqabah
Allah SWT menjelaskan makna al-‘Aqabah melalui beberapa amal yang sangat mendasar:
فَكُّ رَقَبَةٍ
“Yaitu membebaskan seorang hamba sahaya.” (Surah Al-Balad ayat 13).
Islam hadir membawa risalah pembebasan manusia. Dalam konteks modern, semangat pembebasan dapat diwujudkan dengan mengangkat manusia dari kebodohan melalui pendidikan, dari kemiskinan melalui pemberdayaan, dari ketidakadilan melalui penegakan hukum, dan dari manipulasi informasi melalui literasi yang benar.
Allah juga berfirman:
أَوْ إِطْعَامٌ فِي يَوْمٍ ذِي مَسْغَبَةٍ
“Atau memberi makan pada hari terjadinya kelaparan.” (Surah Al-Balad ayat 14).
Ayat ini menegaskan pentingnya solidaritas sosial, terutama ketika masyarakat menghadapi kesulitan.
Selanjutnya:
يَتِيمًا ذَا مَقْرَبَةٍ أَوْ مِسْكِينًا ذَا مَتْرَبَةٍ
“(Memberi makan) kepada anak yatim yang mempunyai hubungan kerabat, atau kepada orang miskin yang sangat fakir.” (Surah Al-Balad ayat 15–16).
Kepedulian sosial dimulai dari keluarga dan lingkungan terdekat, tetapi tidak berhenti di sana. Orang miskin dan kelompok lemah tetap memiliki hak untuk mendapatkan perhatian dan pertolongan.
Kemudian Allah berfirman:
ثُمَّ كَانَ مِنَ الَّذِينَ آمَنُوا وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ وَتَوَاصَوْا بِالْمَرْحَمَةِ
“Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, saling menasihati untuk bersabar, dan saling menasihati untuk berkasih sayang.”
(Surah Al-Balad ayat 17).
Ayat ini memperlihatkan tiga fondasi penting Peradaban Fitrah: iman, kesabaran, dan kasih sayang. Iman menjadi fondasi moral; sabar melahirkan keteguhan dalam mempertahankan kebenaran; sedangkan marhamah membangun kepedulian dan kepercayaan sosial.
Nilai tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ:
“Orang yang penyayang akan disayangi oleh Allah Yang Maha Penyayang. Sayangilah penduduk bumi, niscaya kalian akan disayangi oleh Yang di langit.” (Hadis riwayat Jami’ at-Tirmidzi).
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Orang kuat bukanlah yang menang bergulat, tetapi orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (Hadis riwayat Sahih al-Bukhari dan Sahih Muslim).
Hadis tersebut memperkuat bahwa pendakian paling berat sering kali adalah menaklukkan amarah, keserakahan, kesombongan, dan hawa nafsu dalam diri.
Artikel ini dikutip dari Hidayatullah.com
Baca Berita Lengkapnya di (https://hidayatullah.com/kajian/2026/09/15/310331/al-aqabah-jalan-terjal-menuju-peradaban-fitrah.html)

